Selasa, 14 Agustus 2012

Gunung Rinjani

Gunung Rinjani. Gunung ini merupakan gunung api tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci. Dengan pemandangan yang super ciamik dan jalur pendakian yang panjang, katanya kalo udah naik gunung ini, ga usah naik gunung-gunung lain di indonesia, intinya gunung ini udah ngewakilin gunung-gunung di Indonesia. Pret ! kata siapa?? Malah gunung ini lah yang harus bertanggung jawab atas ketertarikan saya dalam hal naik gunung. Gara-gara si cantik rinjani ini hasrat untuk naik gunung saya lahir dan jadi pengen naik gunung-gunung lainnya. Tiap liat gunung di kota manapun pasti langsung menggebu-gebu entah mengapa. Ya gunungnya dewi anjani ini lah yang membuka mata saya akan keindahan naik gunung.

Perjalanan Aikmel-Sembalun (Mobil Sayur)
Perjalanan ke Rinjani ini saya lakoni tanggal 31 juni 2012 sampe 11 juli 2012 berlima bersama teman kampus dan ditambah 1 personil yang ketemu di bali, awalnya dia mau solo travel ke rinjani, luar biasa. Sebenernya di gunungnya mah Cuma  4 hari dari tanggal 4 sampe tanggal 8 juli 2012, sisanya ya maen ke gili sama bali.

Puncak Gunung Rinjani dari Sembalun Lawang
Berangkat dari bandung lewat jalur darat merakyat make KA ekonomi ke jogja, semalem di jogja langsung cabut ke banyuwangi naek KA ekonomi merakyat juga. Sampe di banyuwangi nyebrang make kapal ferry lanjut lintas bali ke pelabuhan padang bai naik kapal ferry lagi, nyampe deh pulau lombok. Nah di pulau lombok ini saya ngeteng mobil elf lanjut mobil bak sayur. Alhasil sampai di sembalun lawang, tempat start mendaki gunung ini. Ada 3 jalur untuk menaklukan Gunung Rinjani, yaitu jalur sembalun, jalur torean dan jalur senaru.

Gerbang awal pendakian jalur Sembalun
Oke, lanjut pendakian rinjani. Kami start di sembalun lawang sekitar jam 9 pagi dan sampai di sebelum pelawangan sembalun jam stengah 2 subuh. Perjalanan kami sampai ke sebelum pelawangan sembalun ini sekitar 16 jam ! edan lah lama banget. Ya wajar sih, soalnya kebanyakan dari kami masih amatir (termasuk saya) dalam hal naik gunung, jadi banyak istirahat. Mungkin total waktu istirahat kami bisa sampai 5-6 jam, haha. Dari Sembalun sampai sebelum pelawangan ini kami melewati 3 pos, pos 1 (Pemantauan) ditandai dengan pos yang tidak beratap serta pemandangan padang ilalangnya , pos 2 (Trengengean) yang terletak di dekat jembatan dengan sunngai kering dibawahnya, di pos 2 ini terdapat mata air berupa kolam penampungan kecil dan terlihat kurang besih lalu pos yang terakhir adalah pos 3 (Padabalong) yang berupa pos tidak beratap juga, sebelum sampai ke pos 3 ada pos bayangan. Dari pos 3 ke sebelum pelawangan ini merupakan medan terberat, namanya aja tanjakan setan, emang setan tuh tanjakan, haha. Medannya curam, apalagi kami jalan malem.  Sesampainya di sebelum pelawangan kami buat camp untuk beristirahat, awalnya kami mau buat camp di pelawangan, tapi ya apa daya, fisik tidak mumpuni untuk lanjut ke pelawangan.

Pos 1 dan hamparan luas padang ilalang
Jembatan dan sungai kering di bawahnya (Pos 2)



Tempat camp pertama
Sekitar jam 7 saya terbangun dan keluar tenda. Luar biasa ! pemandangannya sangat indah, di sisi kiri saya melihat jalur sembalun yang kami lewati dengan sambutan matahari pagi sedangkan di sisi kanan saya bisa melihat danau segara anak dengan gunung barunya yang cantik. Tempat ini merupakan punggungan yang di sisi kiri dan kanannya tebing. Awan pun masih terlihat segar di sekeliling. Setelah puas bersitirahat sekitar jam 2 kami packing dan lanjut ke pelawangan. Sangat dekat ternyata, kurang dari 10 menit kami sudah sampai.

Sunrise di sebelum plawangan
 
Pemandangan di camp pertama

Di pelawangan ini terdapat sumber air. Airnya sangat bersih, saking bersinhya air ini bisa diminum langsung dan sangat segar. Setelah masang tenda kami pun bersantai istirahat melihat suguhan pemadangan alam rinjanu sambil menyiapkan mental dan fisik untuk summit attack besok subuh. 

Jalan menuju plawangan dan punggunan menuju puncak Rinjani

Tempat camp kedua (plawangan sembalun)
Jam 2 subuh kami sudah bangun untuk siap-siap muncak dan mengisi perut. Kami pun siap berangkat sekitar jam 3 subuh. Perjalanan normal ke puncak rinjani dari pelawangan ini adalah 3-4 jam. Dengan penuh semangat kami memulai perjalanan ke puncak. Diawali dengan medan yang sangat terjal dan berpasir lalu punggungan yang kiri dan kanannya jurang dan terakhir tanjakan dengan batu-batu vulkanis. Kami berhenti di puncak semu, tepat jam 5 pagi. Disana kami istirahat melihat sunrise. Indah nian pemandangannya, kaya negeri diatas awan disambut dengan cahaya emas sang mentari yang perlahan-lahan menunjukan lingkaran inti cahayanya. Puncak semu ini berada di sebelum tanjakan dengan batu-batu vulkanis. Setelah istirahat, sekitar jam setengah 7 kami melanjutkan perjalanan ke puncak.

Sunrise di puncak semu Rinjani

Puncak Semu
Perlahan tapi pasti, kami menapakan kaki di tanjakan berbatu. Alhasil sekitar jam 8an kami sampai di puncak. Pemandangannya indah, sekeliling pulau lombok terlihat jelas dari sini, di kejauhan sebelah barat kami melihat puncak Gunung Agungnya bali dan di sebelah timur bisa terlihat (mungkin) puncak Gunung Tambora. Di sebalah kiri kanan dari puncak ini juga ga kalah indahnya, terdapat danau segara anak dengan gunung barunya di salah satu sisi dan kawah rinjani di sisi lainnya ditambah hamparan awan lembut yang meyelimuti pulau lombok.

Tanjakan berbatu vulkanik Ssebelum puncak
Danau Segara Anak dari Puncak Rinjani
Puncak Rinjani !


 Pemandangan di Pucak Rinjani
 
Setalah puas menikmati pemandangan puncak dan tentunya mengambil banyak foto, kami kembali turun ke pelawangan untuk istirahat makan dan packing menuju destinasi selanjutnya, Danau Segara Anak. Jam setengah 4 sore kami selesai packing dan siap untuk terjun menuju danau segara anak. Terlihat sangat dekat dari atas pelawanga ungtuk sampai danau yang posisinya di bawah plawangan, namun ternyata perjalanannya memakan waktu sekitar 4-5 jam dengan medan yang sangat curam di awal-awal lalu dilanjutkan dengan jalan setapak mengikuti pinggiran punggungan gunung. Sialnya lagi, hari sudah mulai gelap ketika kami sedang di medan yang curam. Sekitar pukul sembilan kami pun sampai di pinggiran Danau Segara Anak. Ditemani cuaca yang cerah dan bulan yang indah, pemandangan malam di pinggir danau ini pun menambah ke eksitisan gunung Rinjani. Setelah selasai mendirikan tenda dan mengisi perut, kami pun istirahat untuk kegiatan esok hari.

Pemandangan ketika turun dari plawangan sembalun
Pagi sekitar jam 6, dengan udara yang dingin, saya nekat untuk mandi karena panggilan “alam”. Untungnya ada sumber mata air panas disana. Letaknya unik, di bawah air terjun. Dulu katanya, tempat mata air ini membentuk 5 kolam air panas yang memiliki tingkat kepanasan berbeda-beda, namun sekarang sudah tidak terlihat lagi keindahan itu, karena jatuhnya batu-batu besar dari atas air terjun akibat badai. Setelah saya selasai mandi dan kembali ke camp, kami menyiapkan sarapan sambil menikmati keindahan Danau Segara Anak dan Gunung Baru. 

Camp ketiga (Segara Anak dan Gunung Baru)
Lanjut setelah makan dan packing kami memulai perjalanan pulang melalui jalur senaru dengan medan awal melewati pinggiran danau segara anak. Walaupun ga terlalu sulit, tapi kalau ga merhatiin langkah, bisa nyebur ke danau, soalnya jalannya lumayan sempit. Beres melewati pinggiran danau, kami disajikan dengan tanjakan yang lumayan curam dan semakin curam sampai harus memanjat, berjalan di tebing-tebing gunung dengan jurang disebalah kiri kami. Walau pun jalurnya terlihat mengerikan, di tempat-tempat rawan sudah tersedia pegangan-pegangan besi untuk membantu dan mengamankan jalan kami. Namun hati-hati, ada beberapa pegangan besi yang tidak stabil, jadi sebaiknya sebelum tangan kita bersandar pada pegangan besi, dicek dulu besinya masih layak atau ga untuk jadi pegangan.

Puas berjibaku dengan tebing-tebing gunung, sampailah kami di Plawangan Senaru. Keadaan sedang berkabut tebal ketika kami sampai disana, jadi ga sempet liat pemandangan dari plawangan senaru karena kami ga begitu lama di tempat ini. Eh iya, di plawangan senaru ini ada yang jual minuman sama snack (di plawangan sembalun juga ada, tapi lebih dikit), harganya selangit, kira-kira 3-4 kali lipat lah, haha ya wajar sih diliat dari perjuangan ngedatengin barang dagangannya ke tempat ini.

Setelah melewati plawangan senaru, medan berganti menjadi turunan terus menerus, diawali dengan turunan yang curam, turunan perbukitan lalu masuk ke hutan dengan medan masih turunan melewati tanda jalan dan pos-pos (lupa ada berapa) yang terlihat lebih terkelola dan tertata rapih dari pada pos-pos di jalur sembalun. Akhirnya kami sampai di gerbang awal pendakian jalur senaru sekitar tengah malam menuju subuh (lupa jam berapa).

Gerbang pendakian jalur Senaru