Kamis, 26 Juli 2012

Freshpacker?



Freshpacker. Mungkin mendengar kata ini ada orang yang bertanya-tanya, apasih freshpacker? Tapi ada juga yang bodo amat. Fresh artinya segar atau baru, ya karena saya baru dalam dunia perjalan-jalanan jadi saya namain freshpacker dah, hha simple kan? Weits ga sesimple itu kawan !


Ini arti-arti dari istilah pertravelingnan yang saya tau (ralat aja ya kalo salah) :

Turis : Traveler yang menyerahkan semuanya ke biro perjalanan, jadi ya dia tinggal ngikut dan bayar aja.

Backpacker : Traveler ini yang katanya paling low cost,  “ngesot” pun dilakukan sampai tujuan dari  perjalanannya tercapai.

Flashpacker : Traveler yang ada di tengah-tengah turis sama backpacker, dia ngatur semuanya sendiri, waktu tempat dan bla bla bla, tapi tetap mengutamakan kenyamanan, jd singkatnya mah lebih mewah dari backpacker lah.

Touring : Traveler yang pergi ke tempat tujuannya ngabring naik motor.

Solo Traveler : Traveler yang pergi sendirian menikmati tujuannya.

Nah kalo freshpacker apa?

Freshpacker : perjalanan aing, kumaha aing ! (aing = saya ,red.)

Haha intinya ya bebas lah mau mewah bisa, mau merakyat bisa, mau jalan kaki bisa, mau make motor bisa, mau sendiri bisa, se RT pun bisa. Karena minim akan pengalaman dan masih fresh, yaudah ngapain dikotak-kotakin mindset saya akan traveling? Jalanin aja cara saya. So, forget your mainstream’s rules ! this is my journey…

Muka saya kearah mana?

Goa Pawon

Goa Pawon. Goa indah yang menjadi saksi kehidupan purba ini terletak di sebelah barat kota cimahi, kurang lebih 1 jam dari bandung. Mengingat perjalanan ke goa yang menakjubkan ini (22 Desember 2011) , saya merasa malu, karena seumur-umur hidup di tanah sunda baru pas di bangku kuliah pergi ke Goa Pawon yang notabene tinggal “ngesot” naik motor ke sana, bahkan naik angkutan umum pun tergolong mudah. Padahal katanya Goa Pawon ini adalah saksi hidup nenek moyangnya orang sunda.

Interior di dalam "Istana Pawon"
Kalo diliat dari track recordnya, tempat wisata ini keliatannya kurang diminati, mungkin karena akses jalan masuknya masih jelek. Padahal guanya luar biasa indah dan masuknya luar biasa murah loh, seikhlasnya! (22/12/2011)

Pertama kali dateng, kami disuguhi tanjakan naik untuk sampe ke mulut Goa Pawon. Widih baru masuk udah disuguhin bau kotoran kelelawar. Kalo yang alergi bau-bauan gitu saya saranin bawa masker dah.. Kalo diliat-liat, gua ini seperti istana manusia purba, terdiri dari ruangan-ruangan bermacam ukuran, kecil, besar, tinggi, panjang, sempit, indah niaan !

Pintu masuk "Istana Pawon"
Lorong kecil Goa Pawon

Lanjut ke dalem gua, kami ketemu gua yang dipagerin, nah di situ tuh ditemuinnya kerangka manusia purba sama si arkeolog. Kerangaka yang terpajang disana sih udah tiruan, yang aslinya uda dipindah ke musium. Melangkah kan satu sampai dua langkah ke depan kami disuguhin tempat seperti amphiteather purba, luar biasa, tebing-tebing tinggi indah dengan lubang besar diatasnya mengelilingi tempat ini, di dekat itu pula ada mulut goa yang memperlihatkan pemandangan sekitar daerah tersebut, seperti jendela lah istilahnya mah kalau di bangunan.

Tebing-tebing tinggi
Salah satu lubang di atap goa
Jendela "Istana Pawon"
Puas muter-muter Goa Pawon, kami penasaran dengan keberadaan sang museum yang menyimpan kerangka asli sang nenek moyang orang sunda. Beuh! yang katanya deket ternyata jauhnya lumayan untuk ukuran museum, mana belum kelar lagi pembangunannya dan ga begitu keliatan menarik, kurang recommended lah untuk museumnya (22/12/2011, ga tau ya kalo sekarang).

Papan petunjuk museum
Waktu perjalanan pulang dari museum, kami melihat dari kejauhan, ternyata dibalik bukit si Goa Pawon itu bersemayam, ada sekitar tiga goa lagi. Dengan jiwa eksplorasi yang menggebu-gebu, kami coba menerobos jalan dan merapat ke goa itu. “Jarang ada yang ke goa itu mah, paling yang mau neliti, jalannya juga udah ketutup sama rumput liar”, penjelasan warga sekitar itu tidak menyurutkan semangat kami untuk bertamu ke goa itu. Ternyata benar, jalurnya ga jelas dan tertutup rumput liar, alhasil tangan kami bentol-bentol. Namun hal itu terbayar ketika kami memanjat dan mendatangi goa pertama. Kami disambut oleh monyet-monyet pribumi disana dan seekor burung hantu, wah keren ! goanya cukup pendek kurang lebih cuma 10 meter lah. Disana juga terlihat bekas-bekas penggalian arkeogi yang nampaknya tidak membuahkan hasil. Goa kedua tidak jauh berbeda dengan goa pertama, namun lebih tinggi dan goa ketiga tidak sempat kami singgahi karena harus memanjat dulu dan medannya lumayan berat.

Tiga goa bersembunyi dibalik bukit
Setelah puas menjelajah goa-goa kecil yang saya lupa namanya itu, kami pun pulang dengan senyuman. Dan ternyata ada satu lokasi yang luput kami singgahi, Stone Garden, yang katanya berada diatas bukit Goa Pawon. Sial, mungkin next time lah ya,haha…

My Pawon's journey team 



Papandayan

Papandayan, gunung dengan kawah megah ini merupakan salah satu gunung aktif di Indonesia yang terletak di kota dodol dan domba, ya apa lagi selain Garut. Udah dua kali saya ke gunung ini dengan trek yang sama yaitu kawah papandayan-lawang angin-pondok saladah (camp)-hutan mati-tegal alun tapi tetep aja ga bosen liatnya, dari kawah yang megah dan besar hingga padang si cantik edelweiss di Tegal Alun.

Perjalanan pertama saya ke gunung ini (21-22 April 2012) adalah dengan komunitas yang baru saja saya kenal, komunitas yang sangat open menerima saya yang terbilang minim pengalaman dalam hal “jalan-jalan”. Yaa namanya juga freshpacker.  Backpacker Community Reg. Bandung, whoa keren banget namanya, haha dibalik kekerenan nama komunitasnya, ternyata orang-orangnya baik dan suka berbagi pengalaman, maka jadilah perjalanan pertama saya ke papandayan ini tempat saya menyerap pengalaman mereka.

Perjalanan pertama dengan Bacpacker Community Reg. Bandung
Perjalanan kedua saya ke gunung ini (9-10 juli 2012) berbanding terbalik dengan perjalanan pertama saya. Yang asalnya “ngikut yang depan aja” alias ga tau apa-apa sekarang jadi penunjuk jalan. Berlima bersama temen-temen komplek, saya mengitari trek yang sama sekali lagi, dan tidak bosan. Masih sama ! tetap menawan seperti biasa.

Perjalanan kedua dengan temen komplek
Okey, perjalanan di Gunung Papandayan dengan trek yang saya jalanin ini ada lima check point yang (menurut saya) mantap untuk di nikmati..

Yang pertama adalah Kawah Papandayan. Kawah yang besar dengan kawah-kawah kecil di dalamnya, dan kita bisa melewati kawah itu, ya menginjakan kaki di bibir kawah dan melihat letupan-letupan ciamik dari lubang-lubang kawah kecil yang ada di kiri-kanan kita. Warna putih dimana-mana, tanahnya putih, asap yang mengembul keataspun putih dan bau belerang tentunya.

Kawah Papandayan (diambil dari internet)
Setelah melewati kawah, kita bakal ketemu dengan yang namanya Lawang Angin. Lawang Angin dari namanya berarti pintu angin. Keren kan? Morfologi alam di tempat ini ga kalah menariknya dengan si kawah. Terlihat lembah yang luas dengan dijepit dua gunung di kiri kanannya. Bentuk U yang didapat dari lembah yang dijepit itulah (mungkin) yang menobatkan dirinya mendapatkan gelar “Lawang angin”. Ditambah lagi ada longsoran yang besar akibat letusan 2002 berhadapan dengan lawang angin, wuih keren dah..

Pesona Longsoran di Lawang Angin dari jalan mau ke Pondok Saladah
Dari Lawang Angin, kita bakal menuruni lembah, menaiki lembah, ngikutin jalan, masuk ke hutan, dan jeng jeng jeng ! nyampe deh di pondok saladah. Tempat ini biasanya dipake buat ngecamp, soalnya tanahnya luas dan rata. Untuk pemandangannya, di lokasi ini sudah terlihat batang-batang edelwiess cantik serta terlihat hutan mati dari kejauhan.

Pemandangan pagi di Pondok saladah
Lanjut lewat rawa (yang asal airnya ga tau alami ga tau dari bocoran pipa) dan hutan, ketemu sama hutan mati, serem banget namanya,haha. Hutan ini dipenuhi dengan batang-batang pohon tanpa daun dengan tanah yang putih, kalo mau disamain sih kaya pemandangan kawah putih, cuma lebih banyak pohonnya bray ! tempat orang foto-foto tentunya..

Hutan Mati
Nah yang terkahir, primadonanya Papandayan (mungkin), TEGAL  ALUN. Hamparan besar padang edelweiss yang cantik, katanya cuma ada hitungan jari loh padang edelweiss yang masih ada di Indonesia. Dari sana juga keliatan puncak papandayan dan katanya (lagi) ada semacam telaga rahasia deket sana, Cuma sayangnya saya belum pernah ke telaga itu.

Tegal Alun


Edelweiss di Tegal Alun
Mantep ga? Masih banyak check point lainnya ternyata, kaya Tegal Panjang, danau entah apa namanya yang ada di deket kawah, Puncak Papandayan, telaga yang ada di Tegal Alun, tebing tempat liat sunrise, dan mungkin masih banyak yang lain, kalo ada kesempatan kesana lagi bakal saya jabanin tuh semua check point yang belum saya contreng,haha..


Jadi gimana papandayan? Tertarik kesana?


Curug Citambur

Curug Citambur, ada yang pernah denger? Kalo saya sih pertama kali denger waktu bingung mau kemana setelah dari Situ Patenggang. Sebenernya perjalanan saya ke curug ini udah lama, tanggal 19 februari 2012, cuma baru kesampean nulis sekarang aja. Perjalanan ke Curug Citambur ini bermula dari "ga tau mau kemana" setelah dari Situ Patenggang, ke Kawah Putih mahal, mau balik ke Bandung, tanggung udah jalan jauh. Kami yang asalnya bersepuluh pun berpencar, 4 orang kembali ke bandung, dan 6 orang melanjutkan perjalanan ke ..... Curug Citambur.

“Kin, deket sini ada curug bagus, namanya Curug Citambur. Sebelum ada belokan ke Situ Patenggang kalo dari arah bandung, ada belokan ke kanan. Kita belok kesana, ga terlalu jauh katanya, gimana?” kurang lebih begitulah hasutan indah dari salah satu teman saya yang ternyata dia juga ga tau dimana curug itu. “Okelah bungkus!” berangkat lah kami berenam naik motor ke arah yang dimaksud.

"Perjalanan dimulai"
Berangkat sekitar jam setengah 1 siang, kami dengan penuh semangat tancap gas menyusuri jalan, sampailah ke pertigaan sesat. Kami memutuskan untuk mengambil jalan lurus yang berbatu, ketimbang jalan besar yang meliuk mulus. Pret! keputusan yang salah , kami berputar-putar di perkebunan teh dengan jalan yang buruk. Awalnya kami sudah curiga kalau jalan yang kami pilih itu salah, tapi ketika kami bertanya tentang Curug Citambur kepada salah seorang ibu yang sedang bersantai ria, ibu bijaksana itu bilang “Oh lurus aja Dek, ikutin jalan”. Oke terimakasih ibu yang baik. Kami melanjutkan perjalanan dan tersadar ketika diujung jalan kami sampai di desa (mungkin) terakhir. “Kang, kalo Curug Citambur kemana ya?”, “Walah salah jalan atuh, udah jauh ini mah, puter balik aja”, damn…

Nyasar di kebun teh
Sekitar satu setengah jam kami menyianyiakan waktu, sampailah kami di pertigaan sesat tadi dan melajutkan perjalanan. Kami berhenti pada suatu mushola kecil, beristirahat dan solat dzuhur di sana, sambil mencari tempat makan untuk menghibur cacing-cacing di perut kami.

Istirahat di Mushola
“Lam, kaga nyampe-nyampe nih curugnya, mendung lagi gimana?”, “Iya gue ga nyangka sejauh ini, tapi kayanya bentar lagi nyampe, tanggung”. Setelah istirahat kami melanjutkan perjalanan dengan dukungan langit yang mendung. Jalan beraspal mulus yang kami lewati habis sudah, dilanjutkan dengan jalan rusak berbatu. Awalnya kami masih bisa mengendalikan motor kami masing-masing, namun seiring berjalannya waktu, kami pun kewalahan, ditambah hujan yang membuat jalanan berbatu tadi menjadi licin. Tiga orang yang di bonceng pun jalan kaki untuk memperingan sang pengendara. Cuaca kembali cerah, dengan durasi hujan yang cukup singkat kami berfikir “kayanya nih hujan cuma mau ngerjain deh” soalnya walau cuaca udah cerah, perjuangan belum juga usai, jalanan berbatu tadi masih licin dan bertambah curam.

Berjibaku dengan jalan yang licin dan berbatu
Setelah satu jam berjibaku dengan jalanan berbatu, kami pun disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa. Terlihat tebing yang tergolong tinggi dan air jatuh di badan tebing itu, posisi kami berada di bawah. “Subhanalloh !” perjuangan kami pun terbayarkan dengan pemandangan alam nan ciamik itu.

yeah ! it's awesome!
Kami pun mendekati salah satu rumah disana. “Pak ini Curug Citambur?”, “Bukan, ini mah Curug Ci(lupa), Curug Citambur mah masih di depan lagi, lebih gede, lebih bagus”. Kami pun melihat sekeliling, damn ternyata tebing tadi menjalar sepanjang jalan dan terdapat 2 air terjun lagi Cisabuk dan Ci(lupa juga). “Subhanalloh lagi !” tebing dengan jejeran air terjun (curug) yang sangat indah, walah hidden paradise ini mah.

Curug dengan pemandangan luar biasa
Sambil memanjakan mata, kami pun melanjutkan perjalanan meuju “final destination”, ya apa lagi, CURUG CITAMBUR !  melihat curug-curug tetangganya yang luar biasa indah, rasa penasaran kami pun memuncak kepada Curug Citambur. Kurang lebih 10 menit kami sampai di gerbang Curug Citambur. Di gerbang tersebut terdapat tulisan “Selamat datang di Curug Citambur, bla bla bla……..Cianjur Selatan”, wew? dari bandung kita ke Cianjur Selatan?? Sejauh itukah?

Dari gerbang hanya terlihat hutan, ga keliatan ada tanda-tanda keberadaan curug. “Udah masuk aja dulu”. Kami pun memasuki daerah wisata tersebut, dibalik punggungan tebing terdengar suara alam nan merdu, “jresshhh !” dan WOW ! luar biasa, curug yang sangat tinggi dan besar jatuh dari atas tebing terdampar disana. Posisi kami melihat curug itu berada di pertengahan tinggi curug tesebut.

CURUG CITAMBUR!
Sambil mengagumi curug itu, kami pun bersitiharat dan solat ashar. Sialnya, kami sampai di curug itu jam setengah 6 (jam setengah 6 solat ashar?) jadi hanya bisa sebentar menikmati keindahan curugnya, padahal katanya ada jalan ke bawah curug dan bisa berenang di sana, huaaaah kalo aja kami punya banyak waktu, diubek-ubek tuh curug.

Solat Ashar bray !
Puas ga puas, ya mau gimana lagi, kami harus pulang sebelum gelap. Akhirnya kami pun pulang, dan tentunya ga dengan jalan yang sama, kami memutar ke Cianjur dan masuk ke Bandung lewat Padalarang. Perjalanan yang singkat dan sama sekali ga diduga sejauh itu pun usai. Walaupun singkat, perjalanan ini cukup berkesan bagi saya, karena penuh kejutan dan bisa ngeliat pemandangan yang ga mungkin kita liat diantara gedung-gedung mewah dan asap-asap metropolitan….

My Citambur’s journey team