Senin, 22 Oktober 2012

Pulau Sempu


“Kin, liburan lah kita, bareng anak-anak abis lebaran”
“Kemana?”
“Pulau Sempu”
“Wah hayu, katanya pulau masih perawan ya?”
“Iya kawasan konservasi gitu”

Oke, mungkin karena musim liburan saya ke sana, pulau ini bisa dikatakan cukup janda untuk statusnya yang konservasi.

Salah satu pulau “konservasi” ini terletak di sebelah selatan kota malang, tepatnya di sebrang pelabuhan sendang biru, sekitar 30km dari kota malang. Dengan predikatnya sebagai kawasan konservasi lazimnya ga semua orang bisa menjamah pulau ini, namun nyatanya di lapangan kita hanya perlu membayar 20-30ribu untuk mengantongi izin memasuki kawasan ini. Daya tarik utama pulau ini terletak pada danau segara anakan (beda sama yang di rinjani). Danau ini merupakan danau air asin yang airnya didapat langsung dari laut. Air laut berupa hamburan ombak masuk ke danau ini melalui suatu lubang yang biasa disebut lubang naga. Karena tergantung oleh pasang surut air laut, danau ini akan surut pada malam hari dan akan penuh pada siang-sore hari.

Danau Segara Anakan

Untuk mencapai pulau sempu ini kami melakukan perjalanan sekitar 3 jam dengan menggunakan carteran angkot. Biaya yang kami keluarkan untuk carter angkot ini adalah 270rb (520rb paket malang-sempu-tumpang sebenernya sih) dan kata orang malang harga segitu masih bisa ditawar. Sesampainya di sana ada 2 hal yang harus di lakukan sebelum memasuki pulau sempu ini, yaitu pengurusan izin yang ternyata “hanya” bayar saja dan penyewaan parahu untuk nyebrang. Harga penyewaan perahu untuk bolak-balik pada umumnya adalah 100rb yang bisa berisi mungkin sampai 15 orang. Gmn cara pulangnya? Perahunya nungguin? Ya engga lah, catet nomernya, pas mau pulang hubungin dia deh, 5-10 menit nyampe. 5-10 menit? ya, penyebrangan dari sendang biru ke teluk semut di pulau sempu hanya berlangsung 5-10 menit.

Pantai Sendang Biru (Randi)
Tiba di teluk semut (pulau sempu) kami di sambut oleh pantai kecil dengan background hutan lebat dibelakangnya. Untuk mencapai danau segara anakan, dibutuhkan waktu jalan 1-2 jam pada cuaca yang baik dan 3-4 jam untuk cuaca hujan / bekas hujan , karena apabila cuaca hujan, tanah yang dipijak akan berubah menjadi lumpur hidup yang siap menelan dan menenggelamkan alas kaki  (udah banyak korbannya, coba aja liat kalau ke pulau ini, banyak sendal-sepatu tertanam rapih di tanah). Beruntung waktu saya kesana cuaca sangat mendukung, sehingga perjalanan ke danau segara anakan tidak terlalu berat. Ada pepatah ketika kita melakukan  perjalanan menuju danau ini, “kalau udah ketemu monyet atau udah denger suara monyet, berarti sebentar lagi sampe”. Dan benar ternyata, setelah saya merasakan kebaradaan monyet-monyet liar, beberapa kemudian terasa aroma air laut dan derau ombak.

Teluk Semut
Istirahat di Perjalanan ke Segara Anakan
“Kin air kin !”
“Yoi, bentar lagi nyampe”

Danau indah dengan air yang sangat bening dengan pasir pantai di pesisir danau dan tebing-tebing tinggi mengelilingi danau ini tersingkap indah di depan mata. “Edan, kaya di film-film lah !”, bener- bener surga tersembunyi walaupun ternyata sudah ramai orang mendirikan tenda di daerah pantai dari danau ini (pantai dari danau?).
Sampai di Danau Segara Anakan (banyak yang camp)
Banyak sekali objek yang wajib dilihat apabila kalian sempat mengunjungi tempat indah ini. Yang pertama tentunya danau segara anakannya. Danau ini memiliki air yang sangat jernih dengan hamparan terumbu karang yang masih hidup ! Apabila air sedang surut, kita bisa melihat terumbu karang ini dengan mata telanjang dan ga perlu berenang-renang dahulu. Pada masa air laut  pasang, danau ini penuh dengan air, sangat cocok untuk kita berenang di air yang sangat jernih (siang-sore). Sedangkan ketika air laut surut kita bisa bermain air sambil menikmati pemandangan tebing-tebing tinggi + terumbu karang yang tersingkap, dan ada yang mancing juga (pagi-siang).

Jernihnya Air Segara Anakan
Danau Segara Anakan (waktu air surut)
Air laut berupa hembusan ombak masuk ke dalam danau ini melalui lubang naga. Fenomena lubang naga ini juga salah satu objek yang sayang untuk dilewatkan ketika kalian bercumbu dengan danau ini. Kenapa lubang naga? Lubang ini gerbang utama masuknya hamtaman ombak  besar ke dalam danau ini, apabila ada ombak yang sangat kuat menghantam lubang ini, buih-buih ombak yang keluar dari lubang ini terlihat seperti hembusan api naga, mungkin karena ini lah disebut lubang naga (tapi ada yang bilang juga kalo pulau ini dijaga sama naga loh,haha).

Lubang Naga
Foto di Depan Lubang Naga
Lubang Naga dengan "Api"-nya
Ga jauh dari danau, sekitar kurang dari 50 meter ke sebelah selatan dengan menaiki karang-karang yang tajam (disarankan pake alas kaki) kita bisa melihat pemandangan samudra hindia dengan posisi kita berada diatas tebing. Birunya laut, merdunya suara ombak dan segarnya angin yang berhembus membuat suasana disini sangat damai, banyak orang-orang yang bisa menghabiskan banyak waktu di tempat ini tanpa melakukan apapun selain melihat lukisan indah samudra hindia, beuh nikmat banget lah pokonya. Sayangya apabila kita berjalan sedikit ke ujung-ujung dari tempat ini, banyak bersemayam air-air hasil dari olahan perut manusia (air seni).

Pemandangan Samudra Hindia 1 (sebelah kiri tebing)
Pemandangan Samudra Hindia 2 (sebelah kanan tebing)
Selain danau, lubang naga dan tempat melihat samudra, kita juga bisa manjat keatas tebing. Namun sebenarnya kegiatan ini tidak dizinkan karena terlalu berbahaya dan medannya yang sangat terjal. Ada tulisan “berbahaya” sebelum kita mencapai puncak dari tebing itu, mungkin dengan batuan yang tajam dan bisa membuat tergelincir serta medan yang memaksa kita memanjat secara hampir vertikal dengan ketinggian mungkin 30-50 meteran alasan “berbahaya” itu dibuat. Tapi apa daya, rasa keingintahuan saya ga bisa disembunyiin, akhirnya saya bisa sampai ke puncak tebing dengan selamat. Tebing ini berada di sebelah barat dari danau, jadi sangat cocok untuk melihat matahari terbenam. “luar biasa !” kata itu yang pertama ada di otak saya, suguhan pemandangan alam yang indah membayar pertaruhan dengan medan yang “berbahaya”. Terlihat jejeran pulau-pulau kecil, tebing-tebing disekitarnya, keindahan sunset (walaupun telat, udah keburu ga keliatan mataharinya), hamparan laut yang luas dan pemandangan danau segara anakan dari atas. Pemandangan disini membius saya untuk berlama-lama disini, namun ada satu masalah yang harus saya sadari dengan keadaan hari yang mulai gelap, “gimana cara turunnya?”. Tapi akhirnya saya selamat sampai di bawah.

Pemandangan Segara Anakan dari Atas Tebing
Jarak Antara Tempat Camp ke Tempat Ngeliat Samudra
(dari atas)
Pemandangan di atas tebing
Di malam hari suasana menjadi daya tarik utamanya, angin malam sepoi-sepoi disertai suara-suara ombak merdu dari laut dan bintang-bintang di langit sangat cocok untuk saling bercerita, bermain gitar dan bersenda gurau di depan api unggun. Waktu saya kesana banyak yang bawa kembang api, sehingga mempercantik malam di danau segara anakan waktu itu.


Oh iya, saya ke pulau ini bersama 6 teman komplek, kakak saya dan 2 orang ketemu di sendang biru pada tanggal 24 Agustus 2012, bermalam 1 hari. Ada hal unik yang kami alami di pulau ini. Kami yang ber 8 ini hanya membawa tenda untuk 2 orang dan 2 orang yang ketemu di sendang biru membawa tenda untuk 8 orang. Takdir bukan?

Kembali ke Sendang Biru



Selasa, 14 Agustus 2012

Gunung Rinjani

Gunung Rinjani. Gunung ini merupakan gunung api tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci. Dengan pemandangan yang super ciamik dan jalur pendakian yang panjang, katanya kalo udah naik gunung ini, ga usah naik gunung-gunung lain di indonesia, intinya gunung ini udah ngewakilin gunung-gunung di Indonesia. Pret ! kata siapa?? Malah gunung ini lah yang harus bertanggung jawab atas ketertarikan saya dalam hal naik gunung. Gara-gara si cantik rinjani ini hasrat untuk naik gunung saya lahir dan jadi pengen naik gunung-gunung lainnya. Tiap liat gunung di kota manapun pasti langsung menggebu-gebu entah mengapa. Ya gunungnya dewi anjani ini lah yang membuka mata saya akan keindahan naik gunung.

Perjalanan Aikmel-Sembalun (Mobil Sayur)
Perjalanan ke Rinjani ini saya lakoni tanggal 31 juni 2012 sampe 11 juli 2012 berlima bersama teman kampus dan ditambah 1 personil yang ketemu di bali, awalnya dia mau solo travel ke rinjani, luar biasa. Sebenernya di gunungnya mah Cuma  4 hari dari tanggal 4 sampe tanggal 8 juli 2012, sisanya ya maen ke gili sama bali.

Puncak Gunung Rinjani dari Sembalun Lawang
Berangkat dari bandung lewat jalur darat merakyat make KA ekonomi ke jogja, semalem di jogja langsung cabut ke banyuwangi naek KA ekonomi merakyat juga. Sampe di banyuwangi nyebrang make kapal ferry lanjut lintas bali ke pelabuhan padang bai naik kapal ferry lagi, nyampe deh pulau lombok. Nah di pulau lombok ini saya ngeteng mobil elf lanjut mobil bak sayur. Alhasil sampai di sembalun lawang, tempat start mendaki gunung ini. Ada 3 jalur untuk menaklukan Gunung Rinjani, yaitu jalur sembalun, jalur torean dan jalur senaru.

Gerbang awal pendakian jalur Sembalun
Oke, lanjut pendakian rinjani. Kami start di sembalun lawang sekitar jam 9 pagi dan sampai di sebelum pelawangan sembalun jam stengah 2 subuh. Perjalanan kami sampai ke sebelum pelawangan sembalun ini sekitar 16 jam ! edan lah lama banget. Ya wajar sih, soalnya kebanyakan dari kami masih amatir (termasuk saya) dalam hal naik gunung, jadi banyak istirahat. Mungkin total waktu istirahat kami bisa sampai 5-6 jam, haha. Dari Sembalun sampai sebelum pelawangan ini kami melewati 3 pos, pos 1 (Pemantauan) ditandai dengan pos yang tidak beratap serta pemandangan padang ilalangnya , pos 2 (Trengengean) yang terletak di dekat jembatan dengan sunngai kering dibawahnya, di pos 2 ini terdapat mata air berupa kolam penampungan kecil dan terlihat kurang besih lalu pos yang terakhir adalah pos 3 (Padabalong) yang berupa pos tidak beratap juga, sebelum sampai ke pos 3 ada pos bayangan. Dari pos 3 ke sebelum pelawangan ini merupakan medan terberat, namanya aja tanjakan setan, emang setan tuh tanjakan, haha. Medannya curam, apalagi kami jalan malem.  Sesampainya di sebelum pelawangan kami buat camp untuk beristirahat, awalnya kami mau buat camp di pelawangan, tapi ya apa daya, fisik tidak mumpuni untuk lanjut ke pelawangan.

Pos 1 dan hamparan luas padang ilalang
Jembatan dan sungai kering di bawahnya (Pos 2)



Tempat camp pertama
Sekitar jam 7 saya terbangun dan keluar tenda. Luar biasa ! pemandangannya sangat indah, di sisi kiri saya melihat jalur sembalun yang kami lewati dengan sambutan matahari pagi sedangkan di sisi kanan saya bisa melihat danau segara anak dengan gunung barunya yang cantik. Tempat ini merupakan punggungan yang di sisi kiri dan kanannya tebing. Awan pun masih terlihat segar di sekeliling. Setelah puas bersitirahat sekitar jam 2 kami packing dan lanjut ke pelawangan. Sangat dekat ternyata, kurang dari 10 menit kami sudah sampai.

Sunrise di sebelum plawangan
 
Pemandangan di camp pertama

Di pelawangan ini terdapat sumber air. Airnya sangat bersih, saking bersinhya air ini bisa diminum langsung dan sangat segar. Setelah masang tenda kami pun bersantai istirahat melihat suguhan pemadangan alam rinjanu sambil menyiapkan mental dan fisik untuk summit attack besok subuh. 

Jalan menuju plawangan dan punggunan menuju puncak Rinjani

Tempat camp kedua (plawangan sembalun)
Jam 2 subuh kami sudah bangun untuk siap-siap muncak dan mengisi perut. Kami pun siap berangkat sekitar jam 3 subuh. Perjalanan normal ke puncak rinjani dari pelawangan ini adalah 3-4 jam. Dengan penuh semangat kami memulai perjalanan ke puncak. Diawali dengan medan yang sangat terjal dan berpasir lalu punggungan yang kiri dan kanannya jurang dan terakhir tanjakan dengan batu-batu vulkanis. Kami berhenti di puncak semu, tepat jam 5 pagi. Disana kami istirahat melihat sunrise. Indah nian pemandangannya, kaya negeri diatas awan disambut dengan cahaya emas sang mentari yang perlahan-lahan menunjukan lingkaran inti cahayanya. Puncak semu ini berada di sebelum tanjakan dengan batu-batu vulkanis. Setelah istirahat, sekitar jam setengah 7 kami melanjutkan perjalanan ke puncak.

Sunrise di puncak semu Rinjani

Puncak Semu
Perlahan tapi pasti, kami menapakan kaki di tanjakan berbatu. Alhasil sekitar jam 8an kami sampai di puncak. Pemandangannya indah, sekeliling pulau lombok terlihat jelas dari sini, di kejauhan sebelah barat kami melihat puncak Gunung Agungnya bali dan di sebelah timur bisa terlihat (mungkin) puncak Gunung Tambora. Di sebalah kiri kanan dari puncak ini juga ga kalah indahnya, terdapat danau segara anak dengan gunung barunya di salah satu sisi dan kawah rinjani di sisi lainnya ditambah hamparan awan lembut yang meyelimuti pulau lombok.

Tanjakan berbatu vulkanik Ssebelum puncak
Danau Segara Anak dari Puncak Rinjani
Puncak Rinjani !


 Pemandangan di Pucak Rinjani
 
Setalah puas menikmati pemandangan puncak dan tentunya mengambil banyak foto, kami kembali turun ke pelawangan untuk istirahat makan dan packing menuju destinasi selanjutnya, Danau Segara Anak. Jam setengah 4 sore kami selesai packing dan siap untuk terjun menuju danau segara anak. Terlihat sangat dekat dari atas pelawanga ungtuk sampai danau yang posisinya di bawah plawangan, namun ternyata perjalanannya memakan waktu sekitar 4-5 jam dengan medan yang sangat curam di awal-awal lalu dilanjutkan dengan jalan setapak mengikuti pinggiran punggungan gunung. Sialnya lagi, hari sudah mulai gelap ketika kami sedang di medan yang curam. Sekitar pukul sembilan kami pun sampai di pinggiran Danau Segara Anak. Ditemani cuaca yang cerah dan bulan yang indah, pemandangan malam di pinggir danau ini pun menambah ke eksitisan gunung Rinjani. Setelah selasai mendirikan tenda dan mengisi perut, kami pun istirahat untuk kegiatan esok hari.

Pemandangan ketika turun dari plawangan sembalun
Pagi sekitar jam 6, dengan udara yang dingin, saya nekat untuk mandi karena panggilan “alam”. Untungnya ada sumber mata air panas disana. Letaknya unik, di bawah air terjun. Dulu katanya, tempat mata air ini membentuk 5 kolam air panas yang memiliki tingkat kepanasan berbeda-beda, namun sekarang sudah tidak terlihat lagi keindahan itu, karena jatuhnya batu-batu besar dari atas air terjun akibat badai. Setelah saya selasai mandi dan kembali ke camp, kami menyiapkan sarapan sambil menikmati keindahan Danau Segara Anak dan Gunung Baru. 

Camp ketiga (Segara Anak dan Gunung Baru)
Lanjut setelah makan dan packing kami memulai perjalanan pulang melalui jalur senaru dengan medan awal melewati pinggiran danau segara anak. Walaupun ga terlalu sulit, tapi kalau ga merhatiin langkah, bisa nyebur ke danau, soalnya jalannya lumayan sempit. Beres melewati pinggiran danau, kami disajikan dengan tanjakan yang lumayan curam dan semakin curam sampai harus memanjat, berjalan di tebing-tebing gunung dengan jurang disebalah kiri kami. Walau pun jalurnya terlihat mengerikan, di tempat-tempat rawan sudah tersedia pegangan-pegangan besi untuk membantu dan mengamankan jalan kami. Namun hati-hati, ada beberapa pegangan besi yang tidak stabil, jadi sebaiknya sebelum tangan kita bersandar pada pegangan besi, dicek dulu besinya masih layak atau ga untuk jadi pegangan.

Puas berjibaku dengan tebing-tebing gunung, sampailah kami di Plawangan Senaru. Keadaan sedang berkabut tebal ketika kami sampai disana, jadi ga sempet liat pemandangan dari plawangan senaru karena kami ga begitu lama di tempat ini. Eh iya, di plawangan senaru ini ada yang jual minuman sama snack (di plawangan sembalun juga ada, tapi lebih dikit), harganya selangit, kira-kira 3-4 kali lipat lah, haha ya wajar sih diliat dari perjuangan ngedatengin barang dagangannya ke tempat ini.

Setelah melewati plawangan senaru, medan berganti menjadi turunan terus menerus, diawali dengan turunan yang curam, turunan perbukitan lalu masuk ke hutan dengan medan masih turunan melewati tanda jalan dan pos-pos (lupa ada berapa) yang terlihat lebih terkelola dan tertata rapih dari pada pos-pos di jalur sembalun. Akhirnya kami sampai di gerbang awal pendakian jalur senaru sekitar tengah malam menuju subuh (lupa jam berapa).

Gerbang pendakian jalur Senaru


Kamis, 26 Juli 2012

Freshpacker?



Freshpacker. Mungkin mendengar kata ini ada orang yang bertanya-tanya, apasih freshpacker? Tapi ada juga yang bodo amat. Fresh artinya segar atau baru, ya karena saya baru dalam dunia perjalan-jalanan jadi saya namain freshpacker dah, hha simple kan? Weits ga sesimple itu kawan !


Ini arti-arti dari istilah pertravelingnan yang saya tau (ralat aja ya kalo salah) :

Turis : Traveler yang menyerahkan semuanya ke biro perjalanan, jadi ya dia tinggal ngikut dan bayar aja.

Backpacker : Traveler ini yang katanya paling low cost,  “ngesot” pun dilakukan sampai tujuan dari  perjalanannya tercapai.

Flashpacker : Traveler yang ada di tengah-tengah turis sama backpacker, dia ngatur semuanya sendiri, waktu tempat dan bla bla bla, tapi tetap mengutamakan kenyamanan, jd singkatnya mah lebih mewah dari backpacker lah.

Touring : Traveler yang pergi ke tempat tujuannya ngabring naik motor.

Solo Traveler : Traveler yang pergi sendirian menikmati tujuannya.

Nah kalo freshpacker apa?

Freshpacker : perjalanan aing, kumaha aing ! (aing = saya ,red.)

Haha intinya ya bebas lah mau mewah bisa, mau merakyat bisa, mau jalan kaki bisa, mau make motor bisa, mau sendiri bisa, se RT pun bisa. Karena minim akan pengalaman dan masih fresh, yaudah ngapain dikotak-kotakin mindset saya akan traveling? Jalanin aja cara saya. So, forget your mainstream’s rules ! this is my journey…

Muka saya kearah mana?

Goa Pawon

Goa Pawon. Goa indah yang menjadi saksi kehidupan purba ini terletak di sebelah barat kota cimahi, kurang lebih 1 jam dari bandung. Mengingat perjalanan ke goa yang menakjubkan ini (22 Desember 2011) , saya merasa malu, karena seumur-umur hidup di tanah sunda baru pas di bangku kuliah pergi ke Goa Pawon yang notabene tinggal “ngesot” naik motor ke sana, bahkan naik angkutan umum pun tergolong mudah. Padahal katanya Goa Pawon ini adalah saksi hidup nenek moyangnya orang sunda.

Interior di dalam "Istana Pawon"
Kalo diliat dari track recordnya, tempat wisata ini keliatannya kurang diminati, mungkin karena akses jalan masuknya masih jelek. Padahal guanya luar biasa indah dan masuknya luar biasa murah loh, seikhlasnya! (22/12/2011)

Pertama kali dateng, kami disuguhi tanjakan naik untuk sampe ke mulut Goa Pawon. Widih baru masuk udah disuguhin bau kotoran kelelawar. Kalo yang alergi bau-bauan gitu saya saranin bawa masker dah.. Kalo diliat-liat, gua ini seperti istana manusia purba, terdiri dari ruangan-ruangan bermacam ukuran, kecil, besar, tinggi, panjang, sempit, indah niaan !

Pintu masuk "Istana Pawon"
Lorong kecil Goa Pawon

Lanjut ke dalem gua, kami ketemu gua yang dipagerin, nah di situ tuh ditemuinnya kerangka manusia purba sama si arkeolog. Kerangaka yang terpajang disana sih udah tiruan, yang aslinya uda dipindah ke musium. Melangkah kan satu sampai dua langkah ke depan kami disuguhin tempat seperti amphiteather purba, luar biasa, tebing-tebing tinggi indah dengan lubang besar diatasnya mengelilingi tempat ini, di dekat itu pula ada mulut goa yang memperlihatkan pemandangan sekitar daerah tersebut, seperti jendela lah istilahnya mah kalau di bangunan.

Tebing-tebing tinggi
Salah satu lubang di atap goa
Jendela "Istana Pawon"
Puas muter-muter Goa Pawon, kami penasaran dengan keberadaan sang museum yang menyimpan kerangka asli sang nenek moyang orang sunda. Beuh! yang katanya deket ternyata jauhnya lumayan untuk ukuran museum, mana belum kelar lagi pembangunannya dan ga begitu keliatan menarik, kurang recommended lah untuk museumnya (22/12/2011, ga tau ya kalo sekarang).

Papan petunjuk museum
Waktu perjalanan pulang dari museum, kami melihat dari kejauhan, ternyata dibalik bukit si Goa Pawon itu bersemayam, ada sekitar tiga goa lagi. Dengan jiwa eksplorasi yang menggebu-gebu, kami coba menerobos jalan dan merapat ke goa itu. “Jarang ada yang ke goa itu mah, paling yang mau neliti, jalannya juga udah ketutup sama rumput liar”, penjelasan warga sekitar itu tidak menyurutkan semangat kami untuk bertamu ke goa itu. Ternyata benar, jalurnya ga jelas dan tertutup rumput liar, alhasil tangan kami bentol-bentol. Namun hal itu terbayar ketika kami memanjat dan mendatangi goa pertama. Kami disambut oleh monyet-monyet pribumi disana dan seekor burung hantu, wah keren ! goanya cukup pendek kurang lebih cuma 10 meter lah. Disana juga terlihat bekas-bekas penggalian arkeogi yang nampaknya tidak membuahkan hasil. Goa kedua tidak jauh berbeda dengan goa pertama, namun lebih tinggi dan goa ketiga tidak sempat kami singgahi karena harus memanjat dulu dan medannya lumayan berat.

Tiga goa bersembunyi dibalik bukit
Setelah puas menjelajah goa-goa kecil yang saya lupa namanya itu, kami pun pulang dengan senyuman. Dan ternyata ada satu lokasi yang luput kami singgahi, Stone Garden, yang katanya berada diatas bukit Goa Pawon. Sial, mungkin next time lah ya,haha…

My Pawon's journey team 



Papandayan

Papandayan, gunung dengan kawah megah ini merupakan salah satu gunung aktif di Indonesia yang terletak di kota dodol dan domba, ya apa lagi selain Garut. Udah dua kali saya ke gunung ini dengan trek yang sama yaitu kawah papandayan-lawang angin-pondok saladah (camp)-hutan mati-tegal alun tapi tetep aja ga bosen liatnya, dari kawah yang megah dan besar hingga padang si cantik edelweiss di Tegal Alun.

Perjalanan pertama saya ke gunung ini (21-22 April 2012) adalah dengan komunitas yang baru saja saya kenal, komunitas yang sangat open menerima saya yang terbilang minim pengalaman dalam hal “jalan-jalan”. Yaa namanya juga freshpacker.  Backpacker Community Reg. Bandung, whoa keren banget namanya, haha dibalik kekerenan nama komunitasnya, ternyata orang-orangnya baik dan suka berbagi pengalaman, maka jadilah perjalanan pertama saya ke papandayan ini tempat saya menyerap pengalaman mereka.

Perjalanan pertama dengan Bacpacker Community Reg. Bandung
Perjalanan kedua saya ke gunung ini (9-10 juli 2012) berbanding terbalik dengan perjalanan pertama saya. Yang asalnya “ngikut yang depan aja” alias ga tau apa-apa sekarang jadi penunjuk jalan. Berlima bersama temen-temen komplek, saya mengitari trek yang sama sekali lagi, dan tidak bosan. Masih sama ! tetap menawan seperti biasa.

Perjalanan kedua dengan temen komplek
Okey, perjalanan di Gunung Papandayan dengan trek yang saya jalanin ini ada lima check point yang (menurut saya) mantap untuk di nikmati..

Yang pertama adalah Kawah Papandayan. Kawah yang besar dengan kawah-kawah kecil di dalamnya, dan kita bisa melewati kawah itu, ya menginjakan kaki di bibir kawah dan melihat letupan-letupan ciamik dari lubang-lubang kawah kecil yang ada di kiri-kanan kita. Warna putih dimana-mana, tanahnya putih, asap yang mengembul keataspun putih dan bau belerang tentunya.

Kawah Papandayan (diambil dari internet)
Setelah melewati kawah, kita bakal ketemu dengan yang namanya Lawang Angin. Lawang Angin dari namanya berarti pintu angin. Keren kan? Morfologi alam di tempat ini ga kalah menariknya dengan si kawah. Terlihat lembah yang luas dengan dijepit dua gunung di kiri kanannya. Bentuk U yang didapat dari lembah yang dijepit itulah (mungkin) yang menobatkan dirinya mendapatkan gelar “Lawang angin”. Ditambah lagi ada longsoran yang besar akibat letusan 2002 berhadapan dengan lawang angin, wuih keren dah..

Pesona Longsoran di Lawang Angin dari jalan mau ke Pondok Saladah
Dari Lawang Angin, kita bakal menuruni lembah, menaiki lembah, ngikutin jalan, masuk ke hutan, dan jeng jeng jeng ! nyampe deh di pondok saladah. Tempat ini biasanya dipake buat ngecamp, soalnya tanahnya luas dan rata. Untuk pemandangannya, di lokasi ini sudah terlihat batang-batang edelwiess cantik serta terlihat hutan mati dari kejauhan.

Pemandangan pagi di Pondok saladah
Lanjut lewat rawa (yang asal airnya ga tau alami ga tau dari bocoran pipa) dan hutan, ketemu sama hutan mati, serem banget namanya,haha. Hutan ini dipenuhi dengan batang-batang pohon tanpa daun dengan tanah yang putih, kalo mau disamain sih kaya pemandangan kawah putih, cuma lebih banyak pohonnya bray ! tempat orang foto-foto tentunya..

Hutan Mati
Nah yang terkahir, primadonanya Papandayan (mungkin), TEGAL  ALUN. Hamparan besar padang edelweiss yang cantik, katanya cuma ada hitungan jari loh padang edelweiss yang masih ada di Indonesia. Dari sana juga keliatan puncak papandayan dan katanya (lagi) ada semacam telaga rahasia deket sana, Cuma sayangnya saya belum pernah ke telaga itu.

Tegal Alun


Edelweiss di Tegal Alun
Mantep ga? Masih banyak check point lainnya ternyata, kaya Tegal Panjang, danau entah apa namanya yang ada di deket kawah, Puncak Papandayan, telaga yang ada di Tegal Alun, tebing tempat liat sunrise, dan mungkin masih banyak yang lain, kalo ada kesempatan kesana lagi bakal saya jabanin tuh semua check point yang belum saya contreng,haha..


Jadi gimana papandayan? Tertarik kesana?