“Kin, liburan lah kita, bareng anak-anak abis lebaran”
“Kemana?”
“Pulau Sempu”
“Wah hayu, katanya pulau masih perawan ya?”
“Iya kawasan konservasi gitu”
Oke, mungkin karena musim liburan saya ke sana, pulau ini
bisa dikatakan cukup janda untuk statusnya yang konservasi.
Salah satu pulau “konservasi” ini terletak di sebelah selatan
kota malang, tepatnya di sebrang pelabuhan sendang biru, sekitar 30km dari kota
malang. Dengan predikatnya sebagai kawasan konservasi lazimnya ga semua orang
bisa menjamah pulau ini, namun nyatanya di lapangan kita hanya perlu membayar 20-30ribu
untuk mengantongi izin memasuki kawasan ini. Daya tarik utama pulau ini
terletak pada danau segara anakan (beda sama yang di rinjani). Danau ini
merupakan danau air asin yang airnya didapat langsung dari laut. Air laut
berupa hamburan ombak masuk ke danau ini melalui suatu lubang yang biasa
disebut lubang naga. Karena tergantung oleh pasang surut air laut, danau ini
akan surut pada malam hari dan akan penuh pada siang-sore hari.
Danau Segara Anakan
Untuk mencapai pulau sempu ini kami melakukan perjalanan
sekitar 3 jam dengan menggunakan carteran angkot. Biaya yang kami keluarkan
untuk carter angkot ini adalah 270rb (520rb paket malang-sempu-tumpang sebenernya
sih) dan kata orang malang harga segitu masih bisa ditawar. Sesampainya di sana
ada 2 hal yang harus di lakukan sebelum memasuki pulau sempu ini, yaitu
pengurusan izin yang ternyata “hanya” bayar saja dan penyewaan parahu untuk
nyebrang. Harga penyewaan perahu untuk bolak-balik pada umumnya adalah 100rb
yang bisa berisi mungkin sampai 15 orang. Gmn cara pulangnya? Perahunya
nungguin? Ya engga lah, catet nomernya, pas mau pulang hubungin dia deh, 5-10
menit nyampe. 5-10 menit? ya, penyebrangan dari sendang biru ke teluk semut di
pulau sempu hanya berlangsung 5-10 menit.
| Pantai Sendang Biru (Randi) |
Tiba di teluk semut (pulau sempu) kami di sambut oleh pantai
kecil dengan background hutan lebat dibelakangnya. Untuk mencapai danau segara
anakan, dibutuhkan waktu jalan 1-2 jam pada cuaca yang baik dan 3-4 jam untuk
cuaca hujan / bekas hujan , karena apabila cuaca hujan, tanah yang dipijak akan
berubah menjadi lumpur hidup yang siap menelan dan menenggelamkan alas kaki (udah banyak korbannya, coba aja liat kalau ke
pulau ini, banyak sendal-sepatu tertanam rapih di tanah). Beruntung waktu saya
kesana cuaca sangat mendukung, sehingga perjalanan ke danau segara anakan tidak
terlalu berat. Ada pepatah ketika kita melakukan perjalanan menuju danau ini, “kalau udah
ketemu monyet atau udah denger suara monyet, berarti sebentar lagi sampe”. Dan
benar ternyata, setelah saya merasakan kebaradaan monyet-monyet liar, beberapa
kemudian terasa aroma air laut dan derau ombak.
| Teluk Semut |
| Istirahat di Perjalanan ke Segara Anakan |
“Yoi, bentar lagi nyampe”
| Sampai di Danau Segara Anakan (banyak yang camp) |
Banyak sekali objek yang wajib dilihat apabila kalian sempat
mengunjungi tempat indah ini. Yang pertama tentunya danau segara anakannya.
Danau ini memiliki air yang sangat jernih dengan hamparan terumbu karang yang
masih hidup ! Apabila air sedang surut, kita bisa melihat terumbu karang ini
dengan mata telanjang dan ga perlu berenang-renang dahulu. Pada masa air
laut pasang, danau ini penuh dengan air,
sangat cocok untuk kita berenang di air yang sangat jernih (siang-sore).
Sedangkan ketika air laut surut kita bisa bermain air sambil menikmati
pemandangan tebing-tebing tinggi + terumbu karang yang tersingkap, dan ada yang
mancing juga (pagi-siang).
| Jernihnya Air Segara Anakan |
| Danau Segara Anakan (waktu air surut) |
Air laut berupa hembusan ombak masuk ke dalam danau ini
melalui lubang naga. Fenomena lubang naga ini juga salah satu objek yang sayang
untuk dilewatkan ketika kalian bercumbu dengan danau ini. Kenapa lubang naga?
Lubang ini gerbang utama masuknya hamtaman ombak besar ke dalam danau ini, apabila ada ombak
yang sangat kuat menghantam lubang ini, buih-buih ombak yang keluar dari lubang
ini terlihat seperti hembusan api naga, mungkin karena ini lah disebut lubang
naga (tapi ada yang bilang juga kalo pulau ini dijaga sama naga loh,haha).
| Lubang Naga |
| Foto di Depan Lubang Naga |
| Lubang Naga dengan "Api"-nya |
Ga jauh dari danau, sekitar kurang dari 50 meter ke sebelah
selatan dengan menaiki karang-karang yang tajam (disarankan pake alas kaki)
kita bisa melihat pemandangan samudra hindia dengan posisi kita berada diatas
tebing. Birunya laut, merdunya suara ombak dan segarnya angin yang berhembus
membuat suasana disini sangat damai, banyak orang-orang yang bisa menghabiskan
banyak waktu di tempat ini tanpa melakukan apapun selain melihat lukisan indah
samudra hindia, beuh nikmat banget lah pokonya. Sayangya apabila kita berjalan
sedikit ke ujung-ujung dari tempat ini, banyak bersemayam air-air hasil dari
olahan perut manusia (air seni).
| Pemandangan Samudra Hindia 1 (sebelah kiri tebing) |
| Pemandangan Samudra Hindia 2 (sebelah kanan tebing) |
| Pemandangan Segara Anakan dari Atas Tebing |
| Jarak Antara Tempat Camp ke Tempat Ngeliat Samudra (dari atas) |
| Pemandangan di atas tebing |
Oh iya, saya ke pulau ini bersama 6 teman komplek, kakak saya
dan 2 orang ketemu di sendang biru pada tanggal 24 Agustus 2012, bermalam 1
hari. Ada hal unik yang kami alami di pulau ini. Kami yang ber 8 ini hanya
membawa tenda untuk 2 orang dan 2 orang yang ketemu di sendang biru membawa
tenda untuk 8 orang. Takdir bukan?
| Kembali ke Sendang Biru |










