Kamis, 26 Juli 2012

Papandayan

Papandayan, gunung dengan kawah megah ini merupakan salah satu gunung aktif di Indonesia yang terletak di kota dodol dan domba, ya apa lagi selain Garut. Udah dua kali saya ke gunung ini dengan trek yang sama yaitu kawah papandayan-lawang angin-pondok saladah (camp)-hutan mati-tegal alun tapi tetep aja ga bosen liatnya, dari kawah yang megah dan besar hingga padang si cantik edelweiss di Tegal Alun.

Perjalanan pertama saya ke gunung ini (21-22 April 2012) adalah dengan komunitas yang baru saja saya kenal, komunitas yang sangat open menerima saya yang terbilang minim pengalaman dalam hal “jalan-jalan”. Yaa namanya juga freshpacker.  Backpacker Community Reg. Bandung, whoa keren banget namanya, haha dibalik kekerenan nama komunitasnya, ternyata orang-orangnya baik dan suka berbagi pengalaman, maka jadilah perjalanan pertama saya ke papandayan ini tempat saya menyerap pengalaman mereka.

Perjalanan pertama dengan Bacpacker Community Reg. Bandung
Perjalanan kedua saya ke gunung ini (9-10 juli 2012) berbanding terbalik dengan perjalanan pertama saya. Yang asalnya “ngikut yang depan aja” alias ga tau apa-apa sekarang jadi penunjuk jalan. Berlima bersama temen-temen komplek, saya mengitari trek yang sama sekali lagi, dan tidak bosan. Masih sama ! tetap menawan seperti biasa.

Perjalanan kedua dengan temen komplek
Okey, perjalanan di Gunung Papandayan dengan trek yang saya jalanin ini ada lima check point yang (menurut saya) mantap untuk di nikmati..

Yang pertama adalah Kawah Papandayan. Kawah yang besar dengan kawah-kawah kecil di dalamnya, dan kita bisa melewati kawah itu, ya menginjakan kaki di bibir kawah dan melihat letupan-letupan ciamik dari lubang-lubang kawah kecil yang ada di kiri-kanan kita. Warna putih dimana-mana, tanahnya putih, asap yang mengembul keataspun putih dan bau belerang tentunya.

Kawah Papandayan (diambil dari internet)
Setelah melewati kawah, kita bakal ketemu dengan yang namanya Lawang Angin. Lawang Angin dari namanya berarti pintu angin. Keren kan? Morfologi alam di tempat ini ga kalah menariknya dengan si kawah. Terlihat lembah yang luas dengan dijepit dua gunung di kiri kanannya. Bentuk U yang didapat dari lembah yang dijepit itulah (mungkin) yang menobatkan dirinya mendapatkan gelar “Lawang angin”. Ditambah lagi ada longsoran yang besar akibat letusan 2002 berhadapan dengan lawang angin, wuih keren dah..

Pesona Longsoran di Lawang Angin dari jalan mau ke Pondok Saladah
Dari Lawang Angin, kita bakal menuruni lembah, menaiki lembah, ngikutin jalan, masuk ke hutan, dan jeng jeng jeng ! nyampe deh di pondok saladah. Tempat ini biasanya dipake buat ngecamp, soalnya tanahnya luas dan rata. Untuk pemandangannya, di lokasi ini sudah terlihat batang-batang edelwiess cantik serta terlihat hutan mati dari kejauhan.

Pemandangan pagi di Pondok saladah
Lanjut lewat rawa (yang asal airnya ga tau alami ga tau dari bocoran pipa) dan hutan, ketemu sama hutan mati, serem banget namanya,haha. Hutan ini dipenuhi dengan batang-batang pohon tanpa daun dengan tanah yang putih, kalo mau disamain sih kaya pemandangan kawah putih, cuma lebih banyak pohonnya bray ! tempat orang foto-foto tentunya..

Hutan Mati
Nah yang terkahir, primadonanya Papandayan (mungkin), TEGAL  ALUN. Hamparan besar padang edelweiss yang cantik, katanya cuma ada hitungan jari loh padang edelweiss yang masih ada di Indonesia. Dari sana juga keliatan puncak papandayan dan katanya (lagi) ada semacam telaga rahasia deket sana, Cuma sayangnya saya belum pernah ke telaga itu.

Tegal Alun


Edelweiss di Tegal Alun
Mantep ga? Masih banyak check point lainnya ternyata, kaya Tegal Panjang, danau entah apa namanya yang ada di deket kawah, Puncak Papandayan, telaga yang ada di Tegal Alun, tebing tempat liat sunrise, dan mungkin masih banyak yang lain, kalo ada kesempatan kesana lagi bakal saya jabanin tuh semua check point yang belum saya contreng,haha..


Jadi gimana papandayan? Tertarik kesana?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar