Kamis, 26 Juli 2012

Curug Citambur

Curug Citambur, ada yang pernah denger? Kalo saya sih pertama kali denger waktu bingung mau kemana setelah dari Situ Patenggang. Sebenernya perjalanan saya ke curug ini udah lama, tanggal 19 februari 2012, cuma baru kesampean nulis sekarang aja. Perjalanan ke Curug Citambur ini bermula dari "ga tau mau kemana" setelah dari Situ Patenggang, ke Kawah Putih mahal, mau balik ke Bandung, tanggung udah jalan jauh. Kami yang asalnya bersepuluh pun berpencar, 4 orang kembali ke bandung, dan 6 orang melanjutkan perjalanan ke ..... Curug Citambur.

“Kin, deket sini ada curug bagus, namanya Curug Citambur. Sebelum ada belokan ke Situ Patenggang kalo dari arah bandung, ada belokan ke kanan. Kita belok kesana, ga terlalu jauh katanya, gimana?” kurang lebih begitulah hasutan indah dari salah satu teman saya yang ternyata dia juga ga tau dimana curug itu. “Okelah bungkus!” berangkat lah kami berenam naik motor ke arah yang dimaksud.

"Perjalanan dimulai"
Berangkat sekitar jam setengah 1 siang, kami dengan penuh semangat tancap gas menyusuri jalan, sampailah ke pertigaan sesat. Kami memutuskan untuk mengambil jalan lurus yang berbatu, ketimbang jalan besar yang meliuk mulus. Pret! keputusan yang salah , kami berputar-putar di perkebunan teh dengan jalan yang buruk. Awalnya kami sudah curiga kalau jalan yang kami pilih itu salah, tapi ketika kami bertanya tentang Curug Citambur kepada salah seorang ibu yang sedang bersantai ria, ibu bijaksana itu bilang “Oh lurus aja Dek, ikutin jalan”. Oke terimakasih ibu yang baik. Kami melanjutkan perjalanan dan tersadar ketika diujung jalan kami sampai di desa (mungkin) terakhir. “Kang, kalo Curug Citambur kemana ya?”, “Walah salah jalan atuh, udah jauh ini mah, puter balik aja”, damn…

Nyasar di kebun teh
Sekitar satu setengah jam kami menyianyiakan waktu, sampailah kami di pertigaan sesat tadi dan melajutkan perjalanan. Kami berhenti pada suatu mushola kecil, beristirahat dan solat dzuhur di sana, sambil mencari tempat makan untuk menghibur cacing-cacing di perut kami.

Istirahat di Mushola
“Lam, kaga nyampe-nyampe nih curugnya, mendung lagi gimana?”, “Iya gue ga nyangka sejauh ini, tapi kayanya bentar lagi nyampe, tanggung”. Setelah istirahat kami melanjutkan perjalanan dengan dukungan langit yang mendung. Jalan beraspal mulus yang kami lewati habis sudah, dilanjutkan dengan jalan rusak berbatu. Awalnya kami masih bisa mengendalikan motor kami masing-masing, namun seiring berjalannya waktu, kami pun kewalahan, ditambah hujan yang membuat jalanan berbatu tadi menjadi licin. Tiga orang yang di bonceng pun jalan kaki untuk memperingan sang pengendara. Cuaca kembali cerah, dengan durasi hujan yang cukup singkat kami berfikir “kayanya nih hujan cuma mau ngerjain deh” soalnya walau cuaca udah cerah, perjuangan belum juga usai, jalanan berbatu tadi masih licin dan bertambah curam.

Berjibaku dengan jalan yang licin dan berbatu
Setelah satu jam berjibaku dengan jalanan berbatu, kami pun disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa. Terlihat tebing yang tergolong tinggi dan air jatuh di badan tebing itu, posisi kami berada di bawah. “Subhanalloh !” perjuangan kami pun terbayarkan dengan pemandangan alam nan ciamik itu.

yeah ! it's awesome!
Kami pun mendekati salah satu rumah disana. “Pak ini Curug Citambur?”, “Bukan, ini mah Curug Ci(lupa), Curug Citambur mah masih di depan lagi, lebih gede, lebih bagus”. Kami pun melihat sekeliling, damn ternyata tebing tadi menjalar sepanjang jalan dan terdapat 2 air terjun lagi Cisabuk dan Ci(lupa juga). “Subhanalloh lagi !” tebing dengan jejeran air terjun (curug) yang sangat indah, walah hidden paradise ini mah.

Curug dengan pemandangan luar biasa
Sambil memanjakan mata, kami pun melanjutkan perjalanan meuju “final destination”, ya apa lagi, CURUG CITAMBUR !  melihat curug-curug tetangganya yang luar biasa indah, rasa penasaran kami pun memuncak kepada Curug Citambur. Kurang lebih 10 menit kami sampai di gerbang Curug Citambur. Di gerbang tersebut terdapat tulisan “Selamat datang di Curug Citambur, bla bla bla……..Cianjur Selatan”, wew? dari bandung kita ke Cianjur Selatan?? Sejauh itukah?

Dari gerbang hanya terlihat hutan, ga keliatan ada tanda-tanda keberadaan curug. “Udah masuk aja dulu”. Kami pun memasuki daerah wisata tersebut, dibalik punggungan tebing terdengar suara alam nan merdu, “jresshhh !” dan WOW ! luar biasa, curug yang sangat tinggi dan besar jatuh dari atas tebing terdampar disana. Posisi kami melihat curug itu berada di pertengahan tinggi curug tesebut.

CURUG CITAMBUR!
Sambil mengagumi curug itu, kami pun bersitiharat dan solat ashar. Sialnya, kami sampai di curug itu jam setengah 6 (jam setengah 6 solat ashar?) jadi hanya bisa sebentar menikmati keindahan curugnya, padahal katanya ada jalan ke bawah curug dan bisa berenang di sana, huaaaah kalo aja kami punya banyak waktu, diubek-ubek tuh curug.

Solat Ashar bray !
Puas ga puas, ya mau gimana lagi, kami harus pulang sebelum gelap. Akhirnya kami pun pulang, dan tentunya ga dengan jalan yang sama, kami memutar ke Cianjur dan masuk ke Bandung lewat Padalarang. Perjalanan yang singkat dan sama sekali ga diduga sejauh itu pun usai. Walaupun singkat, perjalanan ini cukup berkesan bagi saya, karena penuh kejutan dan bisa ngeliat pemandangan yang ga mungkin kita liat diantara gedung-gedung mewah dan asap-asap metropolitan….

My Citambur’s journey team





Tidak ada komentar:

Posting Komentar