Curug Citambur, ada yang pernah
denger? Kalo saya sih pertama kali denger waktu bingung mau kemana setelah dari
Situ Patenggang. Sebenernya perjalanan saya ke curug ini udah lama, tanggal 19
februari 2012, cuma baru kesampean nulis sekarang aja. Perjalanan ke Curug Citambur ini bermula dari "ga tau mau kemana" setelah dari Situ Patenggang, ke Kawah Putih mahal, mau balik ke Bandung, tanggung udah jalan jauh. Kami yang asalnya bersepuluh pun berpencar, 4 orang kembali ke bandung, dan 6 orang melanjutkan perjalanan ke ..... Curug Citambur.
“Kin, deket sini ada curug bagus,
namanya Curug Citambur. Sebelum ada belokan ke Situ Patenggang kalo dari arah
bandung, ada belokan ke kanan. Kita belok kesana, ga terlalu jauh katanya, gimana?” kurang lebih
begitulah hasutan indah dari salah satu teman saya yang ternyata dia juga ga
tau dimana curug itu. “Okelah bungkus!” berangkat lah kami berenam naik motor
ke arah yang dimaksud.
 |
| "Perjalanan dimulai" |
Berangkat sekitar jam setengah 1
siang, kami dengan penuh semangat tancap gas menyusuri jalan, sampailah ke
pertigaan sesat. Kami memutuskan untuk
mengambil jalan lurus yang berbatu, ketimbang jalan besar yang meliuk mulus. Pret!
keputusan yang salah , kami berputar-putar di perkebunan teh dengan jalan yang
buruk. Awalnya kami sudah curiga kalau jalan yang kami pilih itu salah, tapi
ketika kami bertanya tentang Curug Citambur kepada salah seorang ibu yang
sedang bersantai ria, ibu bijaksana itu bilang “Oh lurus aja Dek, ikutin jalan”.
Oke terimakasih ibu yang baik. Kami melanjutkan perjalanan dan tersadar ketika
diujung jalan kami sampai di desa (mungkin) terakhir. “Kang, kalo Curug
Citambur kemana ya?”, “Walah salah jalan atuh, udah jauh ini mah, puter balik
aja”, damn…
 |
| Nyasar di kebun teh |
Sekitar satu setengah jam kami
menyianyiakan waktu, sampailah kami di pertigaan sesat tadi dan melajutkan
perjalanan. Kami berhenti pada suatu mushola kecil, beristirahat dan solat
dzuhur di sana, sambil mencari tempat makan untuk menghibur cacing-cacing di
perut kami.
 |
| Istirahat di Mushola |
“Lam, kaga nyampe-nyampe nih curugnya,
mendung lagi gimana?”, “Iya gue ga nyangka sejauh ini, tapi kayanya bentar lagi
nyampe, tanggung”. Setelah istirahat kami melanjutkan perjalanan dengan dukungan
langit yang mendung. Jalan beraspal mulus yang kami lewati habis
sudah, dilanjutkan dengan jalan rusak berbatu. Awalnya kami masih bisa
mengendalikan motor kami masing-masing, namun seiring berjalannya waktu, kami pun kewalahan, ditambah hujan yang
membuat jalanan berbatu tadi menjadi licin. Tiga orang yang di bonceng pun
jalan kaki untuk memperingan sang pengendara. Cuaca kembali cerah, dengan
durasi hujan yang cukup singkat kami berfikir “kayanya nih hujan cuma mau
ngerjain deh” soalnya walau cuaca udah cerah, perjuangan belum juga usai, jalanan berbatu tadi masih licin dan bertambah
curam.
 |
| Berjibaku dengan jalan yang licin dan berbatu |
Setelah satu jam berjibaku dengan
jalanan berbatu, kami pun disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa. Terlihat tebing yang tergolong tinggi dan air jatuh di badan tebing itu, posisi kami
berada di bawah. “Subhanalloh !” perjuangan kami pun terbayarkan dengan
pemandangan alam nan ciamik itu.
 |
| yeah ! it's awesome! |
Kami pun mendekati salah satu
rumah disana. “Pak ini Curug Citambur?”, “Bukan, ini mah Curug Ci(lupa), Curug
Citambur mah masih di depan lagi, lebih gede, lebih bagus”. Kami pun melihat
sekeliling, damn ternyata tebing tadi menjalar sepanjang jalan dan terdapat 2
air terjun lagi Cisabuk dan Ci(lupa juga). “Subhanalloh lagi !” tebing dengan
jejeran air terjun (curug) yang sangat indah, walah hidden paradise ini mah.
 |
| Curug dengan pemandangan luar biasa |
Sambil memanjakan mata, kami pun
melanjutkan perjalanan meuju “final destination”, ya apa lagi, CURUG CITAMBUR
! melihat curug-curug tetangganya yang
luar biasa indah, rasa penasaran kami pun memuncak kepada Curug Citambur. Kurang lebih 10 menit kami sampai di gerbang Curug Citambur. Di gerbang
tersebut terdapat tulisan “Selamat datang di Curug Citambur, bla bla bla……..Cianjur
Selatan”, wew? dari bandung kita ke Cianjur Selatan?? Sejauh itukah?
Dari gerbang hanya terlihat
hutan, ga keliatan ada tanda-tanda keberadaan curug. “Udah masuk aja dulu”. Kami
pun memasuki daerah wisata tersebut, dibalik punggungan tebing terdengar suara
alam nan merdu, “jresshhh !” dan WOW ! luar biasa, curug yang sangat tinggi dan
besar jatuh dari atas tebing terdampar disana. Posisi kami melihat curug itu berada di pertengahan tinggi curug tesebut.
 |
| CURUG CITAMBUR! |
Sambil mengagumi curug itu, kami
pun bersitiharat dan solat ashar. Sialnya, kami sampai di curug itu jam
setengah 6 (jam setengah 6 solat ashar?) jadi hanya bisa sebentar menikmati
keindahan curugnya, padahal katanya ada jalan ke bawah curug dan bisa berenang
di sana, huaaaah kalo aja kami punya banyak waktu, diubek-ubek tuh curug.
 |
| Solat Ashar bray ! |
Puas ga puas, ya mau gimana lagi,
kami harus pulang sebelum gelap. Akhirnya kami pun pulang, dan tentunya ga
dengan jalan yang sama, kami memutar ke Cianjur dan masuk ke Bandung lewat Padalarang. Perjalanan yang singkat dan sama sekali ga diduga sejauh itu pun
usai. Walaupun singkat, perjalanan ini cukup berkesan bagi saya, karena penuh kejutan dan bisa ngeliat pemandangan yang ga mungkin
kita liat diantara gedung-gedung mewah dan asap-asap metropolitan….
My Citambur’s journey team
Tidak ada komentar:
Posting Komentar