Goa Pawon. Goa indah yang menjadi saksi kehidupan purba ini
terletak di sebelah barat kota cimahi, kurang lebih 1 jam dari bandung. Mengingat
perjalanan ke goa yang menakjubkan ini (22 Desember 2011) , saya merasa malu,
karena seumur-umur hidup di tanah sunda baru pas di bangku kuliah pergi ke Goa Pawon yang
notabene tinggal “ngesot” naik motor ke sana, bahkan naik angkutan umum pun
tergolong mudah. Padahal katanya Goa Pawon ini adalah saksi hidup nenek
moyangnya orang sunda.
| Interior di dalam "Istana Pawon" |
Kalo diliat dari track recordnya, tempat wisata ini
keliatannya kurang diminati, mungkin karena akses jalan masuknya masih jelek. Padahal
guanya luar biasa indah dan masuknya luar biasa murah loh, seikhlasnya! (22/12/2011)
Pertama kali dateng, kami disuguhi tanjakan naik untuk sampe
ke mulut Goa Pawon. Widih baru masuk udah disuguhin bau kotoran kelelawar. Kalo
yang alergi bau-bauan gitu saya saranin bawa masker dah.. Kalo diliat-liat, gua
ini seperti istana manusia purba, terdiri dari ruangan-ruangan bermacam ukuran,
kecil, besar, tinggi, panjang, sempit, indah niaan !
| Pintu masuk "Istana Pawon" |
| Lorong kecil Goa Pawon |
Lanjut ke dalem gua, kami ketemu gua yang dipagerin, nah di
situ tuh ditemuinnya kerangka manusia purba sama si arkeolog. Kerangaka yang
terpajang disana sih udah tiruan, yang aslinya uda dipindah ke musium. Melangkah
kan satu sampai dua langkah ke depan kami disuguhin tempat seperti amphiteather
purba, luar biasa, tebing-tebing tinggi indah dengan lubang besar diatasnya
mengelilingi tempat ini, di dekat itu pula ada mulut goa yang memperlihatkan
pemandangan sekitar daerah tersebut, seperti jendela lah istilahnya mah kalau
di bangunan.
| Tebing-tebing tinggi |
| Salah satu lubang di atap goa |
| Jendela "Istana Pawon" |
Puas muter-muter Goa Pawon, kami penasaran dengan keberadaan
sang museum yang menyimpan kerangka asli sang nenek moyang orang sunda. Beuh! yang
katanya deket ternyata jauhnya lumayan untuk ukuran museum, mana belum
kelar lagi pembangunannya dan ga begitu keliatan menarik, kurang recommended lah
untuk museumnya (22/12/2011, ga tau ya kalo sekarang).
| Papan petunjuk museum |
Waktu perjalanan pulang dari museum, kami melihat dari
kejauhan, ternyata dibalik bukit si Goa Pawon itu bersemayam, ada sekitar tiga
goa lagi. Dengan jiwa eksplorasi yang menggebu-gebu, kami coba menerobos jalan
dan merapat ke goa itu. “Jarang ada yang ke goa itu mah, paling yang mau
neliti, jalannya juga udah ketutup sama rumput liar”, penjelasan warga sekitar
itu tidak menyurutkan semangat kami untuk bertamu ke goa itu. Ternyata benar,
jalurnya ga jelas dan tertutup rumput liar, alhasil tangan kami bentol-bentol. Namun
hal itu terbayar ketika kami memanjat dan mendatangi goa pertama. Kami disambut
oleh monyet-monyet pribumi disana dan seekor burung hantu, wah keren ! goanya
cukup pendek kurang lebih cuma 10 meter lah. Disana juga terlihat bekas-bekas
penggalian arkeogi yang nampaknya tidak membuahkan hasil. Goa kedua tidak jauh
berbeda dengan goa pertama, namun lebih tinggi dan goa ketiga tidak sempat kami
singgahi karena harus memanjat dulu dan medannya lumayan berat.
| Tiga goa bersembunyi dibalik bukit |
Setelah puas menjelajah goa-goa kecil yang saya lupa namanya
itu, kami pun pulang dengan senyuman. Dan ternyata ada satu lokasi yang luput
kami singgahi, Stone Garden, yang katanya berada diatas bukit Goa Pawon. Sial,
mungkin next time lah ya,haha…
My Pawon's journey team

Tidak ada komentar:
Posting Komentar