Kamis, 26 Juli 2012

Goa Pawon

Goa Pawon. Goa indah yang menjadi saksi kehidupan purba ini terletak di sebelah barat kota cimahi, kurang lebih 1 jam dari bandung. Mengingat perjalanan ke goa yang menakjubkan ini (22 Desember 2011) , saya merasa malu, karena seumur-umur hidup di tanah sunda baru pas di bangku kuliah pergi ke Goa Pawon yang notabene tinggal “ngesot” naik motor ke sana, bahkan naik angkutan umum pun tergolong mudah. Padahal katanya Goa Pawon ini adalah saksi hidup nenek moyangnya orang sunda.

Interior di dalam "Istana Pawon"
Kalo diliat dari track recordnya, tempat wisata ini keliatannya kurang diminati, mungkin karena akses jalan masuknya masih jelek. Padahal guanya luar biasa indah dan masuknya luar biasa murah loh, seikhlasnya! (22/12/2011)

Pertama kali dateng, kami disuguhi tanjakan naik untuk sampe ke mulut Goa Pawon. Widih baru masuk udah disuguhin bau kotoran kelelawar. Kalo yang alergi bau-bauan gitu saya saranin bawa masker dah.. Kalo diliat-liat, gua ini seperti istana manusia purba, terdiri dari ruangan-ruangan bermacam ukuran, kecil, besar, tinggi, panjang, sempit, indah niaan !

Pintu masuk "Istana Pawon"
Lorong kecil Goa Pawon

Lanjut ke dalem gua, kami ketemu gua yang dipagerin, nah di situ tuh ditemuinnya kerangka manusia purba sama si arkeolog. Kerangaka yang terpajang disana sih udah tiruan, yang aslinya uda dipindah ke musium. Melangkah kan satu sampai dua langkah ke depan kami disuguhin tempat seperti amphiteather purba, luar biasa, tebing-tebing tinggi indah dengan lubang besar diatasnya mengelilingi tempat ini, di dekat itu pula ada mulut goa yang memperlihatkan pemandangan sekitar daerah tersebut, seperti jendela lah istilahnya mah kalau di bangunan.

Tebing-tebing tinggi
Salah satu lubang di atap goa
Jendela "Istana Pawon"
Puas muter-muter Goa Pawon, kami penasaran dengan keberadaan sang museum yang menyimpan kerangka asli sang nenek moyang orang sunda. Beuh! yang katanya deket ternyata jauhnya lumayan untuk ukuran museum, mana belum kelar lagi pembangunannya dan ga begitu keliatan menarik, kurang recommended lah untuk museumnya (22/12/2011, ga tau ya kalo sekarang).

Papan petunjuk museum
Waktu perjalanan pulang dari museum, kami melihat dari kejauhan, ternyata dibalik bukit si Goa Pawon itu bersemayam, ada sekitar tiga goa lagi. Dengan jiwa eksplorasi yang menggebu-gebu, kami coba menerobos jalan dan merapat ke goa itu. “Jarang ada yang ke goa itu mah, paling yang mau neliti, jalannya juga udah ketutup sama rumput liar”, penjelasan warga sekitar itu tidak menyurutkan semangat kami untuk bertamu ke goa itu. Ternyata benar, jalurnya ga jelas dan tertutup rumput liar, alhasil tangan kami bentol-bentol. Namun hal itu terbayar ketika kami memanjat dan mendatangi goa pertama. Kami disambut oleh monyet-monyet pribumi disana dan seekor burung hantu, wah keren ! goanya cukup pendek kurang lebih cuma 10 meter lah. Disana juga terlihat bekas-bekas penggalian arkeogi yang nampaknya tidak membuahkan hasil. Goa kedua tidak jauh berbeda dengan goa pertama, namun lebih tinggi dan goa ketiga tidak sempat kami singgahi karena harus memanjat dulu dan medannya lumayan berat.

Tiga goa bersembunyi dibalik bukit
Setelah puas menjelajah goa-goa kecil yang saya lupa namanya itu, kami pun pulang dengan senyuman. Dan ternyata ada satu lokasi yang luput kami singgahi, Stone Garden, yang katanya berada diatas bukit Goa Pawon. Sial, mungkin next time lah ya,haha…

My Pawon's journey team 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar