Senin, 22 Oktober 2012

Pulau Sempu


“Kin, liburan lah kita, bareng anak-anak abis lebaran”
“Kemana?”
“Pulau Sempu”
“Wah hayu, katanya pulau masih perawan ya?”
“Iya kawasan konservasi gitu”

Oke, mungkin karena musim liburan saya ke sana, pulau ini bisa dikatakan cukup janda untuk statusnya yang konservasi.

Salah satu pulau “konservasi” ini terletak di sebelah selatan kota malang, tepatnya di sebrang pelabuhan sendang biru, sekitar 30km dari kota malang. Dengan predikatnya sebagai kawasan konservasi lazimnya ga semua orang bisa menjamah pulau ini, namun nyatanya di lapangan kita hanya perlu membayar 20-30ribu untuk mengantongi izin memasuki kawasan ini. Daya tarik utama pulau ini terletak pada danau segara anakan (beda sama yang di rinjani). Danau ini merupakan danau air asin yang airnya didapat langsung dari laut. Air laut berupa hamburan ombak masuk ke danau ini melalui suatu lubang yang biasa disebut lubang naga. Karena tergantung oleh pasang surut air laut, danau ini akan surut pada malam hari dan akan penuh pada siang-sore hari.

Danau Segara Anakan

Untuk mencapai pulau sempu ini kami melakukan perjalanan sekitar 3 jam dengan menggunakan carteran angkot. Biaya yang kami keluarkan untuk carter angkot ini adalah 270rb (520rb paket malang-sempu-tumpang sebenernya sih) dan kata orang malang harga segitu masih bisa ditawar. Sesampainya di sana ada 2 hal yang harus di lakukan sebelum memasuki pulau sempu ini, yaitu pengurusan izin yang ternyata “hanya” bayar saja dan penyewaan parahu untuk nyebrang. Harga penyewaan perahu untuk bolak-balik pada umumnya adalah 100rb yang bisa berisi mungkin sampai 15 orang. Gmn cara pulangnya? Perahunya nungguin? Ya engga lah, catet nomernya, pas mau pulang hubungin dia deh, 5-10 menit nyampe. 5-10 menit? ya, penyebrangan dari sendang biru ke teluk semut di pulau sempu hanya berlangsung 5-10 menit.

Pantai Sendang Biru (Randi)
Tiba di teluk semut (pulau sempu) kami di sambut oleh pantai kecil dengan background hutan lebat dibelakangnya. Untuk mencapai danau segara anakan, dibutuhkan waktu jalan 1-2 jam pada cuaca yang baik dan 3-4 jam untuk cuaca hujan / bekas hujan , karena apabila cuaca hujan, tanah yang dipijak akan berubah menjadi lumpur hidup yang siap menelan dan menenggelamkan alas kaki  (udah banyak korbannya, coba aja liat kalau ke pulau ini, banyak sendal-sepatu tertanam rapih di tanah). Beruntung waktu saya kesana cuaca sangat mendukung, sehingga perjalanan ke danau segara anakan tidak terlalu berat. Ada pepatah ketika kita melakukan  perjalanan menuju danau ini, “kalau udah ketemu monyet atau udah denger suara monyet, berarti sebentar lagi sampe”. Dan benar ternyata, setelah saya merasakan kebaradaan monyet-monyet liar, beberapa kemudian terasa aroma air laut dan derau ombak.

Teluk Semut
Istirahat di Perjalanan ke Segara Anakan
“Kin air kin !”
“Yoi, bentar lagi nyampe”

Danau indah dengan air yang sangat bening dengan pasir pantai di pesisir danau dan tebing-tebing tinggi mengelilingi danau ini tersingkap indah di depan mata. “Edan, kaya di film-film lah !”, bener- bener surga tersembunyi walaupun ternyata sudah ramai orang mendirikan tenda di daerah pantai dari danau ini (pantai dari danau?).
Sampai di Danau Segara Anakan (banyak yang camp)
Banyak sekali objek yang wajib dilihat apabila kalian sempat mengunjungi tempat indah ini. Yang pertama tentunya danau segara anakannya. Danau ini memiliki air yang sangat jernih dengan hamparan terumbu karang yang masih hidup ! Apabila air sedang surut, kita bisa melihat terumbu karang ini dengan mata telanjang dan ga perlu berenang-renang dahulu. Pada masa air laut  pasang, danau ini penuh dengan air, sangat cocok untuk kita berenang di air yang sangat jernih (siang-sore). Sedangkan ketika air laut surut kita bisa bermain air sambil menikmati pemandangan tebing-tebing tinggi + terumbu karang yang tersingkap, dan ada yang mancing juga (pagi-siang).

Jernihnya Air Segara Anakan
Danau Segara Anakan (waktu air surut)
Air laut berupa hembusan ombak masuk ke dalam danau ini melalui lubang naga. Fenomena lubang naga ini juga salah satu objek yang sayang untuk dilewatkan ketika kalian bercumbu dengan danau ini. Kenapa lubang naga? Lubang ini gerbang utama masuknya hamtaman ombak  besar ke dalam danau ini, apabila ada ombak yang sangat kuat menghantam lubang ini, buih-buih ombak yang keluar dari lubang ini terlihat seperti hembusan api naga, mungkin karena ini lah disebut lubang naga (tapi ada yang bilang juga kalo pulau ini dijaga sama naga loh,haha).

Lubang Naga
Foto di Depan Lubang Naga
Lubang Naga dengan "Api"-nya
Ga jauh dari danau, sekitar kurang dari 50 meter ke sebelah selatan dengan menaiki karang-karang yang tajam (disarankan pake alas kaki) kita bisa melihat pemandangan samudra hindia dengan posisi kita berada diatas tebing. Birunya laut, merdunya suara ombak dan segarnya angin yang berhembus membuat suasana disini sangat damai, banyak orang-orang yang bisa menghabiskan banyak waktu di tempat ini tanpa melakukan apapun selain melihat lukisan indah samudra hindia, beuh nikmat banget lah pokonya. Sayangya apabila kita berjalan sedikit ke ujung-ujung dari tempat ini, banyak bersemayam air-air hasil dari olahan perut manusia (air seni).

Pemandangan Samudra Hindia 1 (sebelah kiri tebing)
Pemandangan Samudra Hindia 2 (sebelah kanan tebing)
Selain danau, lubang naga dan tempat melihat samudra, kita juga bisa manjat keatas tebing. Namun sebenarnya kegiatan ini tidak dizinkan karena terlalu berbahaya dan medannya yang sangat terjal. Ada tulisan “berbahaya” sebelum kita mencapai puncak dari tebing itu, mungkin dengan batuan yang tajam dan bisa membuat tergelincir serta medan yang memaksa kita memanjat secara hampir vertikal dengan ketinggian mungkin 30-50 meteran alasan “berbahaya” itu dibuat. Tapi apa daya, rasa keingintahuan saya ga bisa disembunyiin, akhirnya saya bisa sampai ke puncak tebing dengan selamat. Tebing ini berada di sebelah barat dari danau, jadi sangat cocok untuk melihat matahari terbenam. “luar biasa !” kata itu yang pertama ada di otak saya, suguhan pemandangan alam yang indah membayar pertaruhan dengan medan yang “berbahaya”. Terlihat jejeran pulau-pulau kecil, tebing-tebing disekitarnya, keindahan sunset (walaupun telat, udah keburu ga keliatan mataharinya), hamparan laut yang luas dan pemandangan danau segara anakan dari atas. Pemandangan disini membius saya untuk berlama-lama disini, namun ada satu masalah yang harus saya sadari dengan keadaan hari yang mulai gelap, “gimana cara turunnya?”. Tapi akhirnya saya selamat sampai di bawah.

Pemandangan Segara Anakan dari Atas Tebing
Jarak Antara Tempat Camp ke Tempat Ngeliat Samudra
(dari atas)
Pemandangan di atas tebing
Di malam hari suasana menjadi daya tarik utamanya, angin malam sepoi-sepoi disertai suara-suara ombak merdu dari laut dan bintang-bintang di langit sangat cocok untuk saling bercerita, bermain gitar dan bersenda gurau di depan api unggun. Waktu saya kesana banyak yang bawa kembang api, sehingga mempercantik malam di danau segara anakan waktu itu.


Oh iya, saya ke pulau ini bersama 6 teman komplek, kakak saya dan 2 orang ketemu di sendang biru pada tanggal 24 Agustus 2012, bermalam 1 hari. Ada hal unik yang kami alami di pulau ini. Kami yang ber 8 ini hanya membawa tenda untuk 2 orang dan 2 orang yang ketemu di sendang biru membawa tenda untuk 8 orang. Takdir bukan?

Kembali ke Sendang Biru