Selasa, 15 Januari 2013

Gunung Semeru

Gunung semeru adalah salah satu gunung api yang masih aktif di indonesia. Saking aktifnya, si kawah gunung ini masih ngeluarin letusan tiap 15-20 menit. Gunung ini merupakan gunung api tertinggi ketiga di indonesia, setelah Gunung Kerinci dan Gunung Rinjani serta merupakan gunung tertinggi di tanah Jawa.

Pada akhir tahun 2012 (bener-bener akhir tahun lah 27-31 Desember 2012), saya berkesempatan mendaratkan kaki dan meneteskan keringat disini. Bersama 2 teman komplek dan si pacar yang ikut nebeng.

“Eh, semeru katanya cuma sampe kalimati aja euy, kumaha atuh?”
“Ah ga rame ga muncak mah, lebar udah jauh-jauh kesana, punya plan lain ga kin?”
“Ya kalau ga maksain semeru, paling kita merbabu merapi aja, turun di lempuyangan, gmn?”
“nya kumaha engke lah”

Wacana 1 minggu sebelum keberangkatan yang mulai hopeless denger semeru ga boleh muncak, tapi akhirnya menit-menit sebelum keberangkatan, kami mantepin hati buat milih semeru.

“Siapin mental bray untuk ga muncak, haha”

Kami memilih untuk transit ke surabaya dulu, karena kereta dari bandung yang langsung ke malang mahal walaupun ekonomi, jadi kami milih kereta ekonomi yang ke surabaya, cuma 38 ribu doang dibanding ekonomi+ yang langsung ke Malang yang harganya diatas 150rb apalagi kalau musim libur lebih mahal.

Berangkat jam 6 sampe jam 11, sekitar  17 jam berkubang di kereta, akhirnya sampe juga di surabaya. Di surabaya kami tidur di mushola untuk nunggu loket tiket kereta KRD ke Malang yang buka jam 4. Jam 4 kurang 15 kami berangkat ke loket, dan ternyata antrian loket sudah menunjukan kalau ga ada harapan lagi buat dapet tiket (saran : kalau mau dapet tiket KRD tidurnya di deket loket). Akhirnya kami pun memutuskan naik angkutan umum lain.

Dengan sangat beruntung, ternyata kami ketemu sama rombongan jogja 11 orang yang mau ke semeru juga. Mereka mau nyewa elf kapasitasnya 15 orang. Jadi kami berempat nebeng rombongan mereka, tarifnya lumayan mahal 25rb seorang, tapi ya ga ribet nyari-nyari angkutan.

Sampe di malang rombongan jogja turun di stasiun Kota Baru,kami lanjut ke terminal tumpang dengan elf yang sama, nambah 20rb per orang (mahal, salah nawar kayanya, tapi 1 elf isinya Cuma 4 orang), disana udah ada rombongan yang nunggu jeep ke Ranu Pani penuh, ditambah dengan rombongan kami jadi 16 orang dengar harga 30 ribu per orang. Di deket pasar Tumpang ada puskesmas, yang biasanya dipake sama pendaki buat bikin surat sehat. Kalau malem kita bisa bikin surat sehat di UGD, tapi kalau pagi, harus nunggu puskesmasnya buka dulu, sekitar jam setengah 8an. Jangan lupa siapin fotokopi KTP buat surat sehat.

Sampe di Ranu Pane, kami lapor ke pos pendakian untuk naik, surat sehat sama fotokopi KTP jadi syarat utama buat naik, selebihnya isi-isi formulir mengenai data tim dan data logistik. Selain itu juga kami di suruh nandatanganin surat pernyataan kalau pendakian hanya boleh sampai kalimati diatas materai. Tapi setelah ngobrol dengan pendaki lain yang mau turun maupun naik, pendakian ke puncak boleh-boleh aja, tapi segala resiko ditanggung sendiri dan pihak TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) udah ngingetin untuk ga muncak.

Dari Ranu Pane menuju Ranu kumbolo terdapat 4 pos dan 2 wilayah. Wilayah tersebut adalah Ledengan Dowo dan Watu Rejeng. Menuju pos 1 kami melewati jalan setapak yang jelas, ditandai dengan paving block yang terkadang tertutup dengan tanah, sedikit menanjak dan melewati lereng bukit meliuk-liuk mengikuti bentuk bukit. Tanda memasuki wilayah Ledengan Dowo terdapat diantara Ranu Pane dan Pos 1. Setelah itu dilanjutkan ke pos 2 dengan medan yang kurang lebih sama namun labih menanjak, apalagi setelah melewati plang wilayah Watu Rejeng menuju Pos 3.  Dari Pos 3, kami disuguhi tanjakan yang lumayan curam namun tidak begitu panjang lalu dilanjutkan dengan jalan yang lumayan landai mengitarin lereng bukit. Pertemuan dengan pos 4 ditandai dengan terlihatnya si cantik Ranu Kumbolo. Dari pos 4 terlihat jelas pemandangan Ranu Kumbolo, namun masih harus turun bukit dan naik-turun 1 bukit lagi untuk menuju tempat camp di ranu umbolo pada umumnya. Sebenarnya, setelah turun bukit dari pos 4, ada 2 jalur yang bisa diambil untuk sampai ke tempat camp Ranu Kumbolo, yaitu jalur naik-turun 1 bukut dan jalur mengitari pinggiran danau. Karena kami sampai di sana malam hari, jadi lebih milih naik-turun bukit, soalnya jalur mengitari pinggiran danau tergolong berbahaya untuk malam hari (bisa jatoh ke danau).

Menjalang matahari terbit di Ranu Kumbolo
Ranu Kumbolo merupakan danau yang terbentuk akibat aktivitas vulkanik pada zaman dahulu. Katanya, dulu Ranu Kumbolo adalah kawah, lalu membeku dan terisi air menjadi danau. Di belakang Ranu Kumbolo (sebelah selatan) terdapat Tanjakan Cinta, yang terkenal dengan legendanya “kalo naik tanjakan cinta sampe atas tanpa liat ke belakang, berarti kisah cintanya sukses” bener atau engga? Ya kembali kepercayaan masing-masing. Kami ngecamp 2 hari di Ranu Kumbolo untuk enjoy-enjoy dan isi tenaga. Udara sepoi-sepoi dikelilingi bukit membuat damai suasana, cuma gara-gara akhir tahun aja kedamaian Ranu Kumbolo terganggu dengan banyaknya tenda yang bertengger. Di antara tanjakan cinta dan Ranu Kumbolo terdapat prasasti majapahit berupa batu tulis yang udah dipagerin. Prasasti ini berisi tentang  seorang mpu yaitu bernama Kameswara pernah melakukan tirthayatra (ziarah suci) ke Gunung Semeru.

Setelah puas menikmati keasrian Ranu Kumbolo, kami pun bertolak menuju arah selatan, dengan destinasi selanjutnya adalah Kalimati. Ada 4 Wilayah yang dilewatin untuk sampe ke Kalimati dari Ranu Kumbolo. Yang pertama adalah Tanjakan Cinta, tajakan lurus yang lumayan menyiksa apabila berjalan dengan beban tas berat dengan legenda cintanya yang terkenal. Setelah melewati tanjakan cinta, akan terlihat lembah dan padang bunga yang luas yang apabila pada musim panas bunga-bunga di padang tersebut bermekaran indah, ada padang bunga lavender juga yang berwarna ungu eksotis. Namun sayang, kami datang ketika musim hujan, sehingga bunga-bunga tersebut membungkus keindahan warnanya dengan warna coklat sayu seakan-akan melindungi warna aslinya yang eksotis dari air hujan. Wilayah ini mempunyai nama Oro-Oro Ombo, entah apa itu artinya. Melewati padang ini terdapat 2 jalur pilihan, yaitu turunan curam yang dilanjutkan berjalan di tengah-tengah padang bunga atau mengitari bukit melihat padang bunga dari atas.

Padang Oro-oro Ombo
Diujung Oro-oro ombo ini, terdapat hutan cemara bernama Cemoro Kandang. Katanya waktu jaman dulu, tempat ini yang banyak bikin orang kesasar, karena emang hutanya luas dan pemandangan yang sama-sama aja sepanjang perjalanan. Namun sekarang udah ada jalur yang sangat jelas. Melewati hutan cemara yang cenderung menanjak namun tidak terlalu curam, kami disuguhkan hujan, sempat berteduh, namun akhirnya melanjutkan perjalanan, karena hujan besar mereda dan dilanjutkan hujan kecil yang terawetkan oleh jajaran pohon-pohon cemara. Tiba di penghujung hutan, kami bertemu suasana yang menyerupai pondok saladahnya Gunung Papandayan. Wilayah ini bernama Jambangan. Padang rumput dikelilingi hutan seperti pondok saladah namun tidak sebesar itu. Dari sini terlihat puncak Gunung Semeru (Mahameru) dengan gagah, kokoh berdiri memantapkan posisinya sebagai tempat para dewa. Apabila teliti, pada wilayah ini terdapat pohon abrei (atau sejenisnya), satu-satunya pohon berbuah yang bisa dimakan yang saya temui. Buahnya manis kecut, lumayanlah nambah-nambah vitamin di gunung. Puas berkutat melewati padang-padang rumput kecil bak taman tersembunyi, kami memasuki wilayah hutan lagi, medannya menurun terlihat seperti pemuas dahaga setelah sebelumnya cenderun konstan menanjak.

Perjalanan yang lumayan singkat di jambangan diakhiri dengan padang rumput yang luas dengan background Mahameru disebelah selatan. Tempat ini adalah destinasi kami selanjutnya, ya Kalimati. Tapi dimana kali yang matinya? Di wilayah ini terdapat sumber air yang bernama Sumber Mani berada di sebelah barat. Untuk menuju sumber air ini medan yang ditempuh cukup berbahaya apalagi bila kita mengambil air pada malam hari. Melewati tebing-tebing tinggi sekitar 3-4 meter bahkan ada yang sampai 5-7 meter di samping kiri-kanan dengan medan yang curam, celah sempit, jalan setapak yang kiri kanannya jurang kecil, batu-batu dari yang kecil sampai yang besar, apabila baru pertama kali kurang lebih 15-20 menit untuk bisa mencapai sumber air ini. Deskripsi tadi lah yang membimbing pemahaman saya bahwa baru saja saya melewati sungai yang sudah mati (Kalimati) dengan berjalan didasar sungai. Pemandangan yang indah namun mencekam, mayoritas warna hitam dan coklat gelap dibalut dengan hijaunya hutan, keheningan yang membuat damai, namun diam-diam memperhatikan seakan-akan siap untuk menerkam. Mungkin berlebihan? Ya mungkin aja, tapi coba aja berjalan di Kalimati ini sendirian di sore hari dan jangan di malam hari, kecuali kalo rame-rame. Sumber air ini merupakan sistem air tanah yang terpotong oleh permukaan tebing, muncul dari salah satu tebing di kalimati berupa tetesan-tetesan dan rembesan air yang keluar dari tanah lalu jatuh terkena hukum gravitasi dan terkumpul di saluran buatan yang berupa bekas genteng shelter (genteng seng yang bergelombang).

Puncak Semeru dari tempat camp Kalimati
 “A ntar muncak?”
“Iya rencananya, knp?”
“Wah yaudah bareng aja atuh, jam 10 kita berangkat”
“Bray bareng jam 10 ntar berangkat gmn? Ada temen rombongan nih”
“Siaplah atur”
“Sip bisa mas”
“Oke deh ntar saling bangunin aja”

Nyampe Kalimati jam setengah 5, ngambil air sampe jam stengah 6 (sialnya dengan medan kaya gitu, saya bawa air sekitar 12 liter) dan mulai muncak jam 10? Niat awal muncak 12 malem tapi gpp lah, nekat aja, makan, langsung tidur istirahat.

Jam 9 kami bangun, liat rombongan lain udah pada siap-siap, kami masih ngumpulin nyawa yang masih nyangkut di sleeping bag. Diluar dugaan, yang biasanya indonesia tukang ngaret, jam setengah 10 mereka semua sudah siap sedangkan kami masih makan mie instan.

Jam 10 kurang berangkat, menyisir ke arah timur kalimati, menuruni bukit dan masuk ke hutan. Masuk ke hutan kami disuguhi tanjakan yang menantang. Bergelut dengan ranting dan akar, berjubaku dengan tanah dan kegelapan, kami menembus hutan, sesekali menghela nafas dan melemaskan otot. Akhirnya sampai di tengah hutan dengan pelataran yang cukup luas untuk merebahkan badan , terdapat 3 tenda yang sedang siap-siap untuk muncak juga. Selamat datang di Arcopodo. Arcopodo berarti arca yang podo, atau kembar. Dulu katanya ada dua arca di wilayah ini namun sekarang udah ilang. Banyak versi cerita yang melalu lalang mengenai arca ini. Ada yang bilang  arcanya di curi, ada yang bilang cuma orang yang punya kelebihan khusus yang liat, ada yang bilang kalo bukan arcanya yang ilang, tapi karena daerah arcopodonya yang dipindah karena terlalu berbahaya (entah angker atau emang rawan kecelakaan). Yang mana yang bener? Terserah mau percaya yang mana.

Bergelut dengan hutan, akhirnya kami sampai di batas vegetasi, dimana di depan kami sudah tidak terlihat keramaian pohon, hanya gundukan pasir dan langit malam. Istirahat lumayan lama di tempat ini karena waktu masih menunjukan pukul 12 kurang. Cairan merah di thermometer menunjukan angka 3 derajat, terasa dingin apabila diam dan tidak bergerak. Sekitar setengah jam istirahat, kamipun malanjutkan pendakian melalui medan pamungkas, gundukan pasir mahameru.

“Di depan batu besar ada batu lagi, di depan tanjakan ada tanjakan lagi”, mental lah yang paling diuji pada pendakian di medan ini. Pasir dan batu yang lepas memberatkan langkah naik sehingga ada istilah naik 3 turun 2 yang walaupun sebenarnya hanya naik 1 turun setengah yang saya alami. Batu yang lumayan besar (lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa) menjadi pantangan tersendiri, karena apabila tidak sengaja terinjak dan terlepas dari cengkraman pasir-pasir kecil, batu itu akan meluncur ke bawah dan bisa melukai pendaki yang berada di bawah.

Pendakian Semeru dini hari
“Batu, batu, batu !” kata yang wajib diucapkan apabila kita dengan tidak sengaja menginjak dan meluncurkan batu ke bawah. Ada mungkin sekitar 3-4 kali kejadian ini terjadi ketika kami naik, namun untungnya tidak ada yang terkena luncuran batu.

Karena kurang istirahat, kami pun banyak istirahat dan sesekali tidur di lereng pendakian. Mungkin sekitar 2 jam akumulasi waktu yang kami gunakan untuk istirahat dan setengah tidur. Sekitar pukul setengah 5 pagi matahari sudah mulai muncul, pemandangan diatas awan sudah mulai tersingkap. Di sebelah utara terlihat jejeran pegunungan tengger dengan diakhiri oleh gunung bromo dan batok di paling utara. Di sebelah timur terlihat anggunnya awan putih yang berbentuk seperti ombak di pantai, bergelombang menyelimuti daerah di bawahnya. Dan di sebelah barat merupakanpemandangan yang paling fenomenal dan menakjubkan menurut saya, bayangan mahameru yang membentuk segitiga sempurna, tanpa cacat meneduhi kota di pagi hari dengan hiasan awan-awan yang mengendap turun seakan tunduk pada sang fajar. Sementara di sebelah utara yang terlihat hanyalah tanjakan pasir, batu-batu dan ujung puncak mahameru yang seakan dekat namun menyiksa.


Gulungan ombak di sebelah timur pendakian

Bayangan segitiga sempurna di sebelah barat pendakian
Sekitar pukul 6 pagi kami sampai di puncak. Menikmati indahnya tempat tertinggi di jawa dengan segala suguhan pemandangan yang  indah membayar segala ujian yang didapatkan saat mendaki. Berdiri satu bendera merah putih di tengah puncak menandakan betapa indahnya negeri ini, dengan segala kemewahan alami tanpa ada keangkuhan privatisasi. Semua menikmati yang sama di tempat ini, kaya, miskin, tua, muda, pria maupun wanita mendapat hal yang sama.

Bendara merah putih di puncak Mahameru
Matahari yang terbit seakan berada di depan mata, ga lagi liat keatas untuk liat matahari, cukup liat ke depan. Meskipun matahari tersasa sejajar dengan kepala, namun hawa dingin di puncak tidak berkurang sedikitpun. Bahkan dibantu dengan hembusan angin, sesekali suhu menunjukan angka 0 derajat pada thermometer. Hembusan nafas kawah di dekat puncak mahameru yang terjadi sekitar 15 menit sekali ga muncul waktu kami berada di puncak, namun ketika sudah menuruni puncak, baru sang nafas tersebut keluar.

Kami pun turun, sekitar pukul 8 pagi setelah puas bercengkrama dengan puncak tertinggi di Jawa,. Semeru merupakan gunung yang masih mengeluarkan gas beracun dari kawahnya. Menurut informasi yang didapat, gas beracun ini mulai dihembuskan sekitar jam 10 pagi, sehingga ada aturan tersirat bahwa pada sebelum pukul 10, para pendaki harus sudah mengosongkan area tersebut demi keamanan dan keselamatan.

Medan ketika turun dan naik mendaki sama berbahayanya, meskipun ketika turun memakan waktu lebih singkat. Pergelangan kaki merupakan target utama yang mengancam keselamatan, karena kesalahan berpijak yang didukung dengan tarikan gaya gravitasi menyebabkan pergelangan kaki terkilir. Terpeleset dan tergelincir juga merupakan masalah serius apabila tidak hati-hati. Ketika kami turun, ada setidaknya satu korban keganasan medan ini. Kepalanya berdarah terkena batu akibat jatuh tergelincir.

Sampai kembali di Kalimati, kami masak dan beristirahat untuk perjalanan pulang esok hari dari kalimati langsung menuju Ranu Pane. Berangkat pagi, sekitar jam 9, kami sampai di Ranu Kumbolo sekitar setengah 12. Di Ranu Kumbolo kami beristirahat makan siang. Kesialanpun datang, tanpa persiapan, hujan besar pun datang dengan cepat, kami yang sedang santai-santai, kocar-kacir membuat shelter serba asal. Alhasil hampir semua perlengkapan kami basah kuyup. Kami memutuskan untuk menunggu hujan mereda untuk melajutkan perjalanan. Akhirnya pukul 3 sore kami melanjutkan perjalanan dengan kecepatan maksimal demi mencapai Ranu Pane sebelum gelap, alhasil kami sampai di base camp Ranu Pane pukul 6 sore.

Dari Ranu Pane menuju Tumpang kami menggunakan truk dengan tarif 30rb dilanjutkan naik angkot “carteran” menuju terminal Arjosari dengan tarif 10rb. Entah berbeda istilah atau apa dengan angkot carteran di kota kami, angkot “carteran” ini tetap menaikan penumpang lain di tengah perjalanan, padahal sudah jelas-jelas kami bilang nyarter. Dari terminal Arjosari kami memutuskan untuk singgah di surabaya sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke bandung, dengan menggunakan elf yang penuh sesak kami pun meluncur menuju surabaya, melewati malam tahun baru di dalam elf dengan keadaan saya yang memprihatinkan, duduk setengah pantat dengan ayam hidup di selangkangan.

Karena pada saat itu terjadi peristiwa yang disebut “arus balik” dari mudik, maka kami pun kewalahan mencari tiket pulang, kereta ekonomi dan bus executive sudah habis terjual dan kami pun mendapat bus bisnis Mandala seharga 140rb dengan pelayanan yang kurang memuaskan karena kenek yang kurang ramah dan kami dioper ke bus lain yang tujuannya bekasi pada saat di Tasikmalaya yang menyebabkan kami tidak diantar sampai bandung, melainkan hanya sampai sebelum tol Cileunyi. Namun akhirnya kami pun selamat sampai rumah masing-masing dengan angkot carteran yang sebenarnya.


Biaya Transport

Dari
Ke
Naik
Harga
ket
Bandung
Surabaya
Kereta
38000

Surabaya
Malang (Tumpang)
Carter Elf
45000
Kalo ngeteng lebih murah
Tumpang
Ranu Pane
Jeep
30000

Ranu Pane
Tumpang
Truk
30000

Tumpang
Arjosari
"Carter" Angkot
10000

Arjosari
Surabaya (Purabaya)
Elf
30000

Surabaya
Bandung (Tol Cileunyi)
Bus Mandala
140000
Tidak direkomendasikan
Tol Cileiunyi
Bandung (Rumah-Bandung Timur)
Carter angkot
10000



TOTAL
333000


Link video perjalanan dan pendakian semeru

http://www.youtube.com/watch?v=YSiVQnXd04k&feature=share