Pada akhir tahun 2012
(bener-bener akhir tahun lah 27-31 Desember 2012), saya berkesempatan mendaratkan
kaki dan meneteskan keringat disini. Bersama 2 teman komplek dan si pacar yang
ikut nebeng.
“Eh, semeru katanya cuma sampe
kalimati aja euy, kumaha atuh?”
“Ah ga rame ga muncak mah, lebar
udah jauh-jauh kesana, punya plan lain ga kin?”
“Ya kalau ga maksain semeru,
paling kita merbabu merapi aja, turun di lempuyangan, gmn?”
“nya kumaha engke lah”
Wacana 1 minggu sebelum
keberangkatan yang mulai hopeless denger
semeru ga boleh muncak, tapi akhirnya menit-menit sebelum keberangkatan, kami
mantepin hati buat milih semeru.
“Siapin mental bray untuk ga
muncak, haha”
Kami memilih untuk transit ke
surabaya dulu, karena kereta dari bandung yang langsung ke malang mahal
walaupun ekonomi, jadi kami milih kereta ekonomi yang ke surabaya, cuma 38 ribu
doang dibanding ekonomi+ yang langsung ke Malang yang harganya diatas 150rb
apalagi kalau musim libur lebih mahal.
Berangkat jam 6 sampe jam 11,
sekitar 17 jam berkubang di kereta,
akhirnya sampe juga di surabaya. Di surabaya kami tidur di mushola untuk nunggu
loket tiket kereta KRD ke Malang yang buka jam 4. Jam 4 kurang 15 kami
berangkat ke loket, dan ternyata antrian loket sudah menunjukan kalau ga ada
harapan lagi buat dapet tiket (saran : kalau mau dapet tiket KRD tidurnya di
deket loket). Akhirnya kami pun memutuskan naik angkutan umum lain.
Dengan sangat beruntung, ternyata
kami ketemu sama rombongan jogja 11 orang yang mau ke semeru juga. Mereka mau
nyewa elf kapasitasnya 15 orang. Jadi kami berempat nebeng rombongan mereka,
tarifnya lumayan mahal 25rb seorang, tapi ya ga ribet nyari-nyari angkutan.
Sampe di malang rombongan jogja
turun di stasiun Kota Baru,kami lanjut ke terminal tumpang dengan elf yang
sama, nambah 20rb per orang (mahal, salah nawar kayanya, tapi 1 elf isinya Cuma
4 orang), disana udah ada rombongan yang nunggu jeep ke Ranu Pani penuh,
ditambah dengan rombongan kami jadi 16 orang dengar harga 30 ribu per orang. Di
deket pasar Tumpang ada puskesmas, yang biasanya dipake sama pendaki buat bikin
surat sehat. Kalau malem kita bisa bikin surat sehat di UGD, tapi kalau pagi,
harus nunggu puskesmasnya buka dulu, sekitar jam setengah 8an. Jangan lupa
siapin fotokopi KTP buat surat sehat.
Sampe di Ranu Pane, kami lapor ke
pos pendakian untuk naik, surat sehat sama fotokopi KTP jadi syarat utama buat
naik, selebihnya isi-isi formulir mengenai data tim dan data logistik. Selain
itu juga kami di suruh nandatanganin surat pernyataan kalau pendakian hanya
boleh sampai kalimati diatas materai. Tapi setelah ngobrol dengan pendaki lain
yang mau turun maupun naik, pendakian ke puncak boleh-boleh aja, tapi segala
resiko ditanggung sendiri dan pihak TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru)
udah ngingetin untuk ga muncak.
Dari Ranu Pane menuju Ranu
kumbolo terdapat 4 pos dan 2 wilayah. Wilayah tersebut adalah Ledengan Dowo dan
Watu Rejeng. Menuju pos 1 kami melewati jalan setapak yang jelas, ditandai
dengan paving block yang terkadang tertutup dengan tanah, sedikit menanjak dan melewati
lereng bukit meliuk-liuk mengikuti bentuk bukit. Tanda memasuki wilayah Ledengan
Dowo terdapat diantara Ranu Pane dan Pos 1. Setelah itu dilanjutkan ke pos 2
dengan medan yang kurang lebih sama namun labih menanjak, apalagi setelah
melewati plang wilayah Watu Rejeng menuju Pos 3. Dari Pos 3, kami disuguhi tanjakan yang
lumayan curam namun tidak begitu panjang lalu dilanjutkan dengan jalan yang
lumayan landai mengitarin lereng bukit. Pertemuan dengan pos 4 ditandai dengan
terlihatnya si cantik Ranu Kumbolo. Dari pos 4 terlihat jelas pemandangan Ranu
Kumbolo, namun masih harus turun bukit dan naik-turun 1 bukit lagi untuk menuju
tempat camp di ranu umbolo pada umumnya. Sebenarnya, setelah turun bukit dari
pos 4, ada 2 jalur yang bisa diambil untuk sampai ke tempat camp Ranu Kumbolo,
yaitu jalur naik-turun 1 bukut dan jalur mengitari pinggiran danau. Karena kami
sampai di sana malam hari, jadi lebih milih naik-turun bukit, soalnya jalur
mengitari pinggiran danau tergolong berbahaya untuk malam hari (bisa jatoh ke
danau).
Ranu Kumbolo merupakan danau yang
terbentuk akibat aktivitas vulkanik pada zaman dahulu. Katanya, dulu Ranu
Kumbolo adalah kawah, lalu membeku dan terisi air menjadi danau. Di belakang
Ranu Kumbolo (sebelah selatan) terdapat Tanjakan Cinta, yang terkenal dengan
legendanya “kalo naik tanjakan cinta sampe atas tanpa liat ke belakang, berarti
kisah cintanya sukses” bener atau engga? Ya kembali kepercayaan masing-masing.
Kami ngecamp 2 hari di Ranu Kumbolo untuk enjoy-enjoy dan isi tenaga. Udara
sepoi-sepoi dikelilingi bukit membuat damai suasana, cuma gara-gara akhir tahun
aja kedamaian Ranu Kumbolo terganggu dengan banyaknya tenda yang bertengger. Di
antara tanjakan cinta dan Ranu Kumbolo terdapat prasasti majapahit berupa batu
tulis yang udah dipagerin. Prasasti ini berisi tentang seorang mpu yaitu bernama Kameswara pernah
melakukan tirthayatra (ziarah suci) ke Gunung Semeru.
![]() |
| Menjalang matahari terbit di Ranu Kumbolo |
Setelah puas menikmati keasrian
Ranu Kumbolo, kami pun bertolak menuju arah selatan, dengan destinasi
selanjutnya adalah Kalimati. Ada 4 Wilayah yang dilewatin untuk sampe ke
Kalimati dari Ranu Kumbolo. Yang pertama adalah Tanjakan Cinta, tajakan lurus
yang lumayan menyiksa apabila berjalan dengan beban tas berat dengan legenda
cintanya yang terkenal. Setelah melewati tanjakan cinta, akan terlihat lembah
dan padang bunga yang luas yang apabila pada musim panas bunga-bunga di padang
tersebut bermekaran indah, ada padang bunga lavender juga yang berwarna ungu
eksotis. Namun sayang, kami datang ketika musim hujan, sehingga bunga-bunga
tersebut membungkus keindahan warnanya dengan warna coklat sayu seakan-akan
melindungi warna aslinya yang eksotis dari air hujan. Wilayah ini mempunyai
nama Oro-Oro Ombo, entah apa itu artinya. Melewati padang ini terdapat 2 jalur
pilihan, yaitu turunan curam yang dilanjutkan berjalan di tengah-tengah padang
bunga atau mengitari bukit melihat padang bunga dari atas.
Diujung Oro-oro ombo ini,
terdapat hutan cemara bernama Cemoro Kandang. Katanya waktu jaman dulu, tempat
ini yang banyak bikin orang kesasar, karena emang hutanya luas dan pemandangan
yang sama-sama aja sepanjang perjalanan. Namun sekarang udah ada jalur yang
sangat jelas. Melewati hutan cemara yang cenderung menanjak namun tidak terlalu
curam, kami disuguhkan hujan, sempat berteduh, namun akhirnya melanjutkan
perjalanan, karena hujan besar mereda dan dilanjutkan hujan kecil yang
terawetkan oleh jajaran pohon-pohon cemara. Tiba di penghujung hutan, kami
bertemu suasana yang menyerupai pondok saladahnya Gunung Papandayan. Wilayah
ini bernama Jambangan. Padang rumput dikelilingi hutan seperti pondok saladah
namun tidak sebesar itu. Dari sini terlihat puncak Gunung Semeru (Mahameru)
dengan gagah, kokoh berdiri memantapkan posisinya sebagai tempat para dewa.
Apabila teliti, pada wilayah ini terdapat pohon abrei (atau sejenisnya),
satu-satunya pohon berbuah yang bisa dimakan yang saya temui. Buahnya manis
kecut, lumayanlah nambah-nambah vitamin di gunung. Puas berkutat melewati
padang-padang rumput kecil bak taman tersembunyi, kami memasuki wilayah hutan
lagi, medannya menurun terlihat seperti pemuas dahaga setelah sebelumnya
cenderun konstan menanjak.
![]() |
| Padang Oro-oro Ombo |
Perjalanan yang lumayan singkat
di jambangan diakhiri dengan padang rumput yang luas dengan background Mahameru
disebelah selatan. Tempat ini adalah destinasi kami selanjutnya, ya Kalimati.
Tapi dimana kali yang matinya? Di wilayah ini terdapat sumber air yang bernama
Sumber Mani berada di sebelah barat. Untuk menuju sumber air ini medan yang
ditempuh cukup berbahaya apalagi bila kita mengambil air pada malam hari.
Melewati tebing-tebing tinggi sekitar 3-4 meter bahkan ada yang sampai 5-7
meter di samping kiri-kanan dengan medan yang curam, celah sempit, jalan
setapak yang kiri kanannya jurang kecil, batu-batu dari yang kecil sampai yang besar,
apabila baru pertama kali kurang lebih 15-20 menit untuk bisa mencapai sumber
air ini. Deskripsi tadi lah yang membimbing pemahaman saya bahwa baru saja saya
melewati sungai yang sudah mati (Kalimati) dengan berjalan didasar sungai.
Pemandangan yang indah namun mencekam, mayoritas warna hitam dan coklat gelap
dibalut dengan hijaunya hutan, keheningan yang membuat damai, namun diam-diam
memperhatikan seakan-akan siap untuk menerkam. Mungkin berlebihan? Ya mungkin
aja, tapi coba aja berjalan di Kalimati ini sendirian di sore hari dan jangan
di malam hari, kecuali kalo rame-rame. Sumber air ini merupakan sistem air
tanah yang terpotong oleh permukaan tebing, muncul dari salah satu tebing di
kalimati berupa tetesan-tetesan dan rembesan air yang keluar dari tanah lalu
jatuh terkena hukum gravitasi dan terkumpul di saluran buatan yang berupa bekas
genteng shelter (genteng seng yang bergelombang).
![]() |
| Puncak Semeru dari tempat camp Kalimati |
“A ntar muncak?”
“Iya rencananya, knp?”
“Wah yaudah bareng aja atuh, jam
10 kita berangkat”
“Bray bareng jam 10 ntar
berangkat gmn? Ada temen rombongan nih”
“Siaplah atur”
“Sip bisa mas”
“Oke deh ntar saling bangunin
aja”
Nyampe Kalimati jam setengah 5,
ngambil air sampe jam stengah 6 (sialnya dengan medan kaya gitu, saya bawa air
sekitar 12 liter) dan mulai muncak jam 10? Niat awal muncak 12 malem tapi gpp
lah, nekat aja, makan, langsung tidur istirahat.
Jam 9 kami bangun, liat rombongan
lain udah pada siap-siap, kami masih ngumpulin nyawa yang masih nyangkut di
sleeping bag. Diluar dugaan, yang biasanya indonesia tukang ngaret, jam
setengah 10 mereka semua sudah siap sedangkan kami masih makan mie instan.
Jam 10 kurang berangkat, menyisir
ke arah timur kalimati, menuruni bukit dan masuk ke hutan. Masuk ke hutan kami
disuguhi tanjakan yang menantang. Bergelut dengan ranting dan akar, berjubaku
dengan tanah dan kegelapan, kami menembus hutan, sesekali menghela nafas dan
melemaskan otot. Akhirnya sampai di tengah hutan dengan pelataran yang cukup
luas untuk merebahkan badan , terdapat 3 tenda yang sedang siap-siap untuk
muncak juga. Selamat datang di Arcopodo. Arcopodo berarti arca yang podo, atau
kembar. Dulu katanya ada dua arca di wilayah ini namun sekarang udah ilang.
Banyak versi cerita yang melalu lalang mengenai arca ini. Ada yang bilang arcanya di curi, ada yang bilang cuma orang
yang punya kelebihan khusus yang liat, ada yang bilang kalo bukan arcanya yang
ilang, tapi karena daerah arcopodonya yang dipindah karena terlalu berbahaya
(entah angker atau emang rawan kecelakaan). Yang mana yang bener? Terserah mau
percaya yang mana.
Bergelut dengan hutan, akhirnya
kami sampai di batas vegetasi, dimana di depan kami sudah tidak terlihat
keramaian pohon, hanya gundukan pasir dan langit malam. Istirahat lumayan lama
di tempat ini karena waktu masih menunjukan pukul 12 kurang. Cairan merah di
thermometer menunjukan angka 3 derajat, terasa dingin apabila diam dan tidak
bergerak. Sekitar setengah jam istirahat, kamipun malanjutkan pendakian melalui
medan pamungkas, gundukan pasir mahameru.
“Di depan batu besar ada batu
lagi, di depan tanjakan ada tanjakan lagi”, mental lah yang paling diuji pada
pendakian di medan ini. Pasir dan batu yang lepas memberatkan langkah naik
sehingga ada istilah naik 3 turun 2 yang walaupun sebenarnya hanya naik 1 turun
setengah yang saya alami. Batu yang lumayan besar (lebih besar dari kepalan
tangan orang dewasa) menjadi pantangan tersendiri, karena apabila tidak sengaja
terinjak dan terlepas dari cengkraman pasir-pasir kecil, batu itu akan meluncur
ke bawah dan bisa melukai pendaki yang berada di bawah.
“Batu, batu, batu !” kata yang
wajib diucapkan apabila kita dengan tidak sengaja menginjak dan meluncurkan
batu ke bawah. Ada mungkin sekitar 3-4 kali kejadian ini terjadi ketika kami
naik, namun untungnya tidak ada yang terkena luncuran batu.
![]() |
| Pendakian Semeru dini hari |
Karena kurang istirahat, kami pun
banyak istirahat dan sesekali tidur di lereng pendakian. Mungkin sekitar 2 jam
akumulasi waktu yang kami gunakan untuk istirahat dan setengah tidur. Sekitar
pukul setengah 5 pagi matahari sudah mulai muncul, pemandangan diatas awan
sudah mulai tersingkap. Di sebelah utara terlihat jejeran pegunungan tengger
dengan diakhiri oleh gunung bromo dan batok di paling utara. Di sebelah timur
terlihat anggunnya awan putih yang berbentuk seperti ombak di pantai,
bergelombang menyelimuti daerah di bawahnya. Dan di sebelah barat merupakanpemandangan
yang paling fenomenal dan menakjubkan menurut saya, bayangan mahameru yang
membentuk segitiga sempurna, tanpa cacat meneduhi kota di pagi hari dengan
hiasan awan-awan yang mengendap turun seakan tunduk pada sang fajar. Sementara
di sebelah utara yang terlihat hanyalah tanjakan pasir, batu-batu dan ujung
puncak mahameru yang seakan dekat namun menyiksa.
Sekitar pukul 6 pagi kami sampai
di puncak. Menikmati indahnya tempat tertinggi di jawa dengan segala suguhan
pemandangan yang indah membayar segala
ujian yang didapatkan saat mendaki. Berdiri satu bendera merah putih di tengah
puncak menandakan betapa indahnya negeri ini, dengan segala kemewahan alami
tanpa ada keangkuhan privatisasi. Semua menikmati yang sama di tempat ini,
kaya, miskin, tua, muda, pria maupun wanita mendapat hal yang sama.
![]() |
| Gulungan ombak di sebelah timur pendakian |
![]() |
| Bayangan segitiga sempurna di sebelah barat pendakian |
![]() |
| Bendara merah putih di puncak Mahameru |
Kami pun turun, sekitar pukul 8
pagi setelah puas bercengkrama dengan puncak tertinggi di Jawa,. Semeru
merupakan gunung yang masih mengeluarkan gas beracun dari kawahnya. Menurut
informasi yang didapat, gas beracun ini mulai dihembuskan sekitar jam 10 pagi,
sehingga ada aturan tersirat bahwa pada sebelum pukul 10, para pendaki harus
sudah mengosongkan area tersebut demi keamanan dan keselamatan.
Medan ketika turun dan naik
mendaki sama berbahayanya, meskipun ketika turun memakan waktu lebih singkat.
Pergelangan kaki merupakan target utama yang mengancam keselamatan, karena
kesalahan berpijak yang didukung dengan tarikan gaya gravitasi menyebabkan
pergelangan kaki terkilir. Terpeleset dan tergelincir juga merupakan masalah
serius apabila tidak hati-hati. Ketika kami turun, ada setidaknya satu korban
keganasan medan ini. Kepalanya berdarah terkena batu akibat jatuh tergelincir.
Sampai kembali di Kalimati, kami
masak dan beristirahat untuk perjalanan pulang esok hari dari kalimati langsung
menuju Ranu Pane. Berangkat pagi, sekitar jam 9, kami sampai di Ranu Kumbolo
sekitar setengah 12. Di Ranu Kumbolo kami beristirahat makan siang. Kesialanpun
datang, tanpa persiapan, hujan besar pun datang dengan cepat, kami yang sedang
santai-santai, kocar-kacir membuat shelter serba asal. Alhasil hampir semua
perlengkapan kami basah kuyup. Kami memutuskan untuk menunggu hujan mereda
untuk melajutkan perjalanan. Akhirnya pukul 3 sore kami melanjutkan perjalanan
dengan kecepatan maksimal demi mencapai Ranu Pane sebelum gelap, alhasil kami
sampai di base camp Ranu Pane pukul 6 sore.
Dari Ranu Pane menuju Tumpang
kami menggunakan truk dengan tarif 30rb dilanjutkan naik angkot “carteran”
menuju terminal Arjosari dengan tarif 10rb. Entah berbeda istilah atau apa
dengan angkot carteran di kota kami, angkot “carteran” ini tetap menaikan
penumpang lain di tengah perjalanan, padahal sudah jelas-jelas kami bilang
nyarter. Dari terminal Arjosari kami memutuskan untuk singgah di surabaya
sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke bandung, dengan menggunakan elf yang
penuh sesak kami pun meluncur menuju surabaya, melewati malam tahun baru di
dalam elf dengan keadaan saya yang memprihatinkan, duduk setengah pantat dengan
ayam hidup di selangkangan.
Karena pada saat itu terjadi
peristiwa yang disebut “arus balik” dari mudik, maka kami pun kewalahan mencari
tiket pulang, kereta ekonomi dan bus executive sudah habis terjual dan kami pun
mendapat bus bisnis Mandala seharga 140rb dengan pelayanan yang kurang
memuaskan karena kenek yang kurang ramah dan kami dioper ke bus lain yang
tujuannya bekasi pada saat di Tasikmalaya yang menyebabkan kami tidak diantar
sampai bandung, melainkan hanya sampai sebelum tol Cileunyi. Namun akhirnya
kami pun selamat sampai rumah masing-masing dengan angkot carteran yang
sebenarnya.
Biaya Transport
Dari
|
Ke
|
Naik
|
Harga
|
ket
|
Bandung
|
Surabaya
|
Kereta
|
38000
|
|
Surabaya
|
Malang (Tumpang)
|
Carter Elf
|
45000
|
Kalo ngeteng lebih murah
|
Tumpang
|
Ranu Pane
|
Jeep
|
30000
|
|
Ranu Pane
|
Tumpang
|
Truk
|
30000
|
|
Tumpang
|
Arjosari
|
"Carter" Angkot
|
10000
|
|
Arjosari
|
Surabaya (Purabaya)
|
Elf
|
30000
|
|
Surabaya
|
Bandung (Tol Cileunyi)
|
Bus Mandala
|
140000
|
Tidak direkomendasikan
|
Tol Cileiunyi
|
Bandung (Rumah-Bandung Timur)
|
Carter angkot
|
10000
|
|
TOTAL
|
333000
|
Link video perjalanan dan pendakian semeru
http://www.youtube.com/watch?v=YSiVQnXd04k&feature=share






